Google Analytics

Selasa, 27 Mei 2025

Klik Judulnya untuk Mendengarkan

👇

KUNTI GUNUNG KAWI Ep.01 


"Di tengah kabut abadi Gunung Kawi, terdengar tangisan pilu yang memecah keheningan malam. Penduduk setempat percaya, itu suara Kuntilanak—roh perempuan yang tak pernah mendapat ketenangan. Tapi siapa dia sebenarnya? Dan apa yang dia tunggu di antara pohon-pohon tua yang membisikkan rahasia kematian?" #DongengGratis #CeritaMistis #MitosGunungKawi #CeritaPendek

Klik Judulnya untuk Membaca

👇

 "Pernah bayangin cinta ideal ala drakor Korea, tapi malah dapat Joko si sok misterius yang maag kronis? Ini kisah Siti, cewek drakor addict yang hubungannya lebih absurd dari sinetron India—penuh seblak, WiFi lemot, dan tetangga tukang gosip. Dari gengsi tunangan pake cincin KW sampe jadi viral karena resep seblak warisan, mereka buktiin bahwa cinta nggak perlu perfect buat bikin nagih!" #CintaAbsurd #KegagalanCinta #MembacaGratis #NovelGratis #PerpustakaanUmumKotaMalang 

Senin, 26 Mei 2025

Klik Judulnya untuk Membaca

👇


"Viral Itu Pahit: Kisah Tukang Kopi yang Terjun ke Dunia Politik Gadungan! Dari warung kopi ke gedung DPRD, penuh janji manis tapi rasanya pahit. Baca novel satire ini dan temukan betapa absurdnya dunia politik digital!"



 

Sabtu, 24 Mei 2025

Klik Judulnya untuk Membaca

👇


"Keluarga Budiarto bikin heboh lagi! Dari masakan pedas bikin ngompol sampai jadi selebriti dadakan—siapa sangka viral itu seribet ini? 🤯🔥 #KeluargaBudiarto #ViralItuPedas"

 

Kamis, 22 Mei 2025

Klik Judulnya untuk Membaca

👇

GEPREKAN: Perang Voucher Pake Nyali 


Geng Jagoan Diskon vs Emak-emak Arisan—Siapa yang akan menang dalam perang voucher misterius ini? Dari promo 80% hingga kutukan digital, siapa sangka perburuan diskon bisa bikin seluruh kampung kocar-kacir? 

VIRAL ITU BAU; Bab 8: Hepi Ending ala Kampung Trendi


Netizen Justru Kangen

Rian menatap tak percaya ke layar laptopnya. Video "Jujur ke Netizen" yang diunggah semalam sudah menembus 5 juta views—angka tertinggi yang pernah ia dapatkan. 

"Kok bisa?" gumamnya, membaca deretan komentar yang membanjiri kolom. 

"Ini konten paling wholesome sepanjang 2023! Akhirnya ada yang jujur di dunia medsos!" tulis @socialmedia_critic dengan emoticon hati. 

"Aku dari dulu fans berat kalian! Tetap autentik ya!" komentar @joko_fansclub. 

Bahkan akun @baukaki_forever yang biasanya hanya memposting meme kini menulis: "Sedih era kaki bau sudah berakhir. Tapi kami respect keputusan kalian!" 

Tiba-tiba telepon berdering. Suara produser televisi terdengar bersemangat: "Kami mau tawarin acara baru: 'Jalan-Jalan dengan Pak Joko'! Konsepnya traveling biasa, bukan cari sensasi!"

Rian terkejut. "Beneran nggak pakai bau-bauan?"

"Beneran! Malah kita akan kasih Pak Joko sepatu baru setiap episode!" 

Di bengkel, Pak Joko yang sedang asyik membuka komentar-komentar di handphone-nya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Rian! Lihat ini!" 

Ia menunjukkan DM dari seorang netizen: "Pak Joko, terima kasih sudah menginspirasi saya rajin ganti kaos kaki. Sekarang pacar saya tidak kabur lagi!" 

Bu Darmi yang lewat sambil membawa nasi bungkus ikut nimbrung: "Warungku juga dapat efek baik. Sekarang yang beli nasi campur beneran karena enak, bukan buat konten aneh-aneh!" 

Rian menyusuri jalan kampung yang kini kembali tenang. Beberapa warga menyapa dengan hangat: 

"Mas Rian, kapan nih bikin konten masak bareng Bu Darmi?" 

"Jangan lupa mampir, ada bakso baru enak di ujung jalan!" 

Di pojok jalan, sekelompok anak muda sedang berfoto selfie di depan bengkel Pak Joko—bukan untuk mengeksploitasi, tapi sekadar kenang-kenangan. 

"Boleh foto, Pak? Buat koleksi pribadi aja," tanya salah seorang dengan sopan. 

Pak Joko tersenyum lebar. "Boleh dong! Tapi sekarang fotonya pakai sepatu ya!" 

Malam itu, Rian mengunggah postingan terbaru: "Mulai besok, kita akan eksplor hal-hal biasa yang sebenarnya luar biasa. Pertama: tutorial ganti ban yang bener biar nggak bocor terus!" 

Dalam hitungan menit, likes berdatangan. Komentar pertama dari @bang_jack: "Gue siap kolab! Tapi janji nggak pake bau-bauan ya!" 

Pak Joko yang melihat itu semua hanya tersenyum, sambil memakai kaos kaki bersih yang baru ia beli—sepasang untuk pertama kalinya dalam 20 tahun. 

"Ternyata lebih enak begini," bisiknya pada diri sendiri, sambil menikmati angin malam yang berhembus tanpa embel-embel aroma menyengat apa pun. 

Di kejauhan, Bu Marni berteriak dari kos: "Rian! Ada yang kirim parcel—katanya hadiah buat kalian berdua!" 

Isinya? Sepuluh pasang kaos kaki baru berbagai warna—dan satu botol besar foot spray. 

Netizen memang tidak pernah berhenti mengagetkan.

  

        Kolab Sehat 

Rian mengatur lighting di depan bengkel Pak Joko yang kini berubah menjadi set sederhana. Sebuah banner bertuliskan "Edukasi Kaki Sehat Bareng Pak Joko & Rian" tergantung di belakang, disertai logo brand sabun yang mensponsori. 

"Oke Pak, kita mulai ya. Ini konten serius tapi santai," bisik Rian sambil menyalakan kamera. 

Pak Joko, mengenakan kaos kaki baru dan sepatu bersih, tersenyum lebar ke lensa. "Hai netizen! Hari ini kita mau bahas cara merawat kaki biar nggak kayak punya saya dulu!" 

Rian mengangkat botol sabun. "Pertama, rajin cuci kaki pakai sabun khusus seperti ini—" 

"Yang dulu pernah mau bayar saya 10 juta buat pura-pura nangis di iklan!" sela Pak Joko dengan senyum kecut, membuat Rian tersedak. 

"Ehh... iya, tapi sekarang kita kerjasama yang sehat!" Rian cepat menyelamatkan situasi sambil mengeluarkan sikat kecil. "Kedua, bersihkan sela jari—" 

"Bukan buat nyikat ban bocor ya!" Pak Joko menyambar, mengacungkan jari telunjuk. 

Di kolom komentar live, netizen langsung banjir emoticon ketawa: 

"Wkwkwk Pak Joko ga bisa beneran serius!" 

"Ini konten edukasi atau stand up comedy?" 

Rian melanjutkan dengan wajah datar: "Ketiga, ganti kaos kaki setiap hari. Bukan seminggu sekali apalagi sebulan—" 

"Lho saya dulu dua bulan sekali!" Pak Joko berseru polos, lalu menutup mulut kaget. "Eh salah—maksud saya... dulu saya juga rajin!" 

Rian memicingkan mata. "Bapak ini... Oke lanjut! Keempat, pakai foot spray kalau perlu." 

Dengan gaya dramatis, Pak Joko menyemprotkan spray ke sepatunya—tapi terlalu banyak sampai membentuk awan kecil. "Aduh... kok jadi kayak disemprot pemadam kebakaran ya?" 

Netizen makin gembira: 

"Tetep autentik sih mereka wkwk" 

"Jadi pengen beli spraynya, tapi takut efeknya kayak di video" 

Di akhir sesi, Rian menutup dengan serius: "Jadi kesimpulannya, jaga kebersihan kaki itu penting—" 

"Biar nggak dijadiin konten sama Rian!" Pak Joko menimpali sambil tertawa, membuat Rian menggeleng tak berdaya. 

 

Ketika kamera dimatikan, manajer brand sabun menghampiri. "Kontennya bagus! Viewernya dobel dari estimasi kita. Mau lanjut kolab seri edukasi kesehatan?" 

Pak Joko mengangkat kaki bersepatunya. "Boleh! Tapi next episode bahas cara benerin ban bocor sambil jelasin anatomi kaki, biar tetep nyambung sama keahlian saya!"

Rian hanya bisa tersenyum lega. Akhirnya mereka menemukan formula tepat—edukasi yang menghibur, tanpa perlu mengorbankan harga diri atau indra penciuman penonton. 

Di kejauhan, Bu Darmi berteriak: "Ada yang pesen bakso aroma kaki nggak? Eh, maksudku... bakso biasa!" 

Lama-lama, semua akan kembali normal—hanya saja dengan sedikit lebih banyak sabun dan sedikit lebih sedikit bau menyengat.

 

        Akhirnya tetap begitu juga

Enam bulan kemudian, bengkel Pak Joko masih ramai dikunjungi—bukan karena aroma kakinya, tapi karena plang barunya yang unik: "Tambal Ban & Spot Foto - Bekas Lokasi Viral Terkenal". Sebuah frame foto berbentuk sepatu raksasa dipasang di depan, lengkap dengan tulisan "Pose Here with The Legendary Foot!"

"Pak Joko, minta foto dong sambil pura-pura pegang kaos kaki!" pinta seorang remaja dengan kamera mirrorless. 

"Boleh! Tapi pakai sepatu ya, nanti kena denda 50 ribu kalau lepas!" jawab Pak Joko sambil tertawa, tangannya asyik memutar ban dalam. 

Di seberang jalan, Rian sedang syuting konten terbarunya—review tempat makan lokal dengan sentuhan edukasi. "Warung ini enggak cuma enak, tapi juga menerima pembayaran pakai sampah plastik daur ulang—"

"KAYAK BAN BEKAS DI BENGKEL SAYA!" teriak Pak Joko dari kejauhan, tanpa diminta. 

Rian menggeleng sambil tersenyum. "Cut! Kita edit bagian itu nanti," bisiknya ke kameramen. 

Bu Darmi yang sekarang jadi bintang tamu tetap di channel Rian muncul dengan nampan makanan. "Coba dulu nasi goreng spesialku—tanpa bau-bau aneh, promise!" 

"Tapi masih pake sambel yang nendang kan, Bu?" tanya Rian sambil menyiapkan kamera lagi. 

Di kolom komentar, netizen setia selalu berdatangan: 

"Aku kangen sih sama konten absurd mereka dulu" 

"Tapi yang sekarang lebih sustainable, tetep seru kok!" 

Malam harinya, Pak Joko dan Rian duduk di teras bengkel, menikmati teh hangat. 

"Gimana, nggak nyesal udah pensiun jadi selebriti kaki?" tanya Rian. 

Pak Joko mengangkat kakinya yang bersepatu baru. "Lebih enak begini. Tapi... ia menurunkan suaranya, "kadang aku kangen sama kaos kaki lamaku yang nomor 7 itu. Itu emang special..."

Rian tertawa. "Tenang Pak, itu sudah jadi koleksi museum digital aku. Enggak akan dijual, cuma buat kenang-kenangan."

Di tengah obrolan mereka, seorang turis Jepang tiba-tiba mendekat. "Excuse me, is this the famous 'Bau Kaki' workshop? I want to take picture with legend!"

Pak Joko menghela napas sambil tersenyum. "Duh, sampai kapan ya gelar itu nempel..." 

Rian hanya bisa terkekeh sambil mengarahkan kamera. "Senyum, Pak! Ini konten gratis buat promosi bengkel!"

Dan begitulah kehidupan mereka sekarang—tetap absurd, tapi dengan porsi yang pas. Bengkel tetap berfungsi sebagai bengkel, channel tetap menghasilkan konten berkualitas, dan yang terpenting... 

"RIAN! AYO MAKAN! AKU BUAT SAMBEL BAWANG BARU!" teriak Bu Darmi dari warung. 

"Yang penting nggak ada aroma kaki di makanan kita lagi," bisik Rian sambil berjalan, diikuti Pak Joko yang terkekeh-kekeh. 

Di langit senja, awan membentuk pola yang samar-samar mirip... sepasang kaos kaki. Mungkin alam memang masih belum sepenuhnya move on.

TAMAT.
 

Rabu, 21 Mei 2025

VIRAL ITU BAU; Bab 7: Jalan Keluar yang Konyol


Rehabilitasi Kaki

Rian menyeret sebuah baskom besar berisi larutan ke tengah bengkel Pak Joko, diikuti oleh warga kampung yang penasaran. 

"Kita mulai terapi tahap satu!" seru Rian, mengacungkan botol berisi cairan hijau. "Ini obat jamur super dari apotek!" 

Pak Joko memasukkan kakinya dengan ragu. "Aduh... perih!" jeritnya setelah tiga detik. 

Bu Darmi yang mengintip dari jendela langsung berkomentar, "Wajar, itu kakimu aja sampai ngebul gitu!" 

Tiba-tiba seorang dukun berjubah ungu nyelonong masuk tanpa permisi. "SALAH SEMUA CARANYA!" teriaknya sambil mengibaskan tongkat wasiat dari ranting pohon mangga. "Yang bener begini!" 

Dia mengeluarkan sekantong kopi tubruk merek murah. "Ini resep turun-temurun! Rendam kaki pakai kopi campur garam dapur, tiga hari tiga malam!" 

Rian mengernyit. "Itu bukannya resep rawon ya, Mbah?" 

"SAMA! Kaki ini juga perlu dibumbui!" sang dukun bersikeras sambil menuang kopi ke baskom. 

Pak Joko mencoba memasukkan kaki. "Aduh... hangat..." 

"Tahan! Nanti juga nikmat!" sang dukun memijat dengan semangat. "Ini kopi spesial racikan saya—kopi jahe sereh, biasanya buat obat kucing males kawin!" 

Warga berkerumun penuh harap ketika Pak Joko mengangkat kakinya setelah 10 menit. 

"Gimana, Pak?" tanya Bu RT penuh harap. 

Pak Joko mengendus. "Bau kopi... tapi..." 

"TAPI APA?" desak Rian. 

"Tapi sekarang baunya kayak kopi basi dicampur keringat kambing," jawab Pak Joko jujur. 

Dukun itu langsung berseru, "SUKSES! Itu artinya racun sudah keluar!" 

Tiba-tiba seorang anak kecil berteriak, "Kucingku pingsan!" sambil menunjuk ke arah kucing kampung yang tergolek di dekat baskom. 

Rian menghela napas. "Mungkin kita butuh pendekatan medis yang lebih..." 

"TIDAK!" potong dukun itu. "Tahap dua lebih ekstrem! Kita pakai rendaman air rebusan jengkol dan petai!" 

Pak Joko langsung menarik kakinya. "Lebih baik aku tetap bau kaki daripada bau dikira toilet rusak!" 

Di tengah keributan, Bang Jack si Ketiak Bau muncul di pintu. "Gue punya solusi..." 

Semua orang menengok. 

"Kita campur aja baunya! Jadi aroma kopi-ketek-kaki! Bisa jadi parfum baru!" 

Rian memandang langit-langit bengkel yang sudah mulai mengelupas. "Kenapa solusi kalian selalu bikin masalah tambah parah..." 

Sementara itu, di sudut ruangan, Bu Darmi sudah mulai mencatat resep untuk jajanan baru: "Kopi Aroma Kaki—Nikmatnya sampai ke jari!"

 Konten Terakhir

Rian mengatur kamera di depan bengkel Pak Joko yang sudah kembali normal, tanpa dekorasi norak atau plang "Kampung Trendi". Pak Joko duduk dengan kaos biasa—bukan yang bertuliskan "BAU TAPI TENAR"—dan mengenakan sandal jepit baru yang masih bersih. 

"Oke, rolling..." Rian memberi isyarat, lalu mulai: 

"Netizen yang kami cintai..." suaranya serius, sangat berbeda dengan nada over-aktifnya biasanya. "Kami mau jujur tentang semua yang terjadi." 

Kamera bergerak ke Pak Joko yang mengangguk. "Iya. Aku mau ngakuin sesuatu." Dia mengangkat kaki yang sudah memakai kaos kaki bersih. "Selama ini... aku jarang ganti kaos kaki. Paling seminggu sekali. Kadang lupa dua minggu..." 

Rian menambahkan: "Dan aku mau minta maaf sudah mengeksploitasi keadaan Pak Joko cuma demi konten." Wajahnya merah. "Awalnya iseng, tapi kemudian jadi keterusan sampai..." 

"Sampe kampungku jadi sirkus!" sela Pak Joko. "Tapi gak apa-apa, aku juga seneng dapat duit buat nambah modal bengkel." 

Mereka tertawa kecil. Rian melanjutkan: "Jadi ini konten terakhir tentang... ehm... aroma kaki. Mulai besok, channel ini akan bahas hal lain." 

"Kayak tutorial benerin ban bocor!" seru Pak Joko antusias. 

"Atau resep masakan Bu Darmi yang nggak pakai bau-bau aneh," tambah Rian sambil tersenyum. 

Di kolom komentar live streaming, netizen bereaksi: 

*"Sedih tapi mengharukan :')"* 

*"Salut sama kejujuran kalian!"* 

*"Tapi tetep mau dong kaos kaki bekas terakhirnya..."* 

Tiba-tiba Bang Jack si Ketiak Bau muncul di belakang mereka. "Gue juga mau minta maaf! Ternyata ketek gue cuma bau biasa, kemarin abis makan jengkol doang!" 

Semua tertawa lepas. Pak Joko mengacungkan jempol ke kamera: 

"Jadi kesimpulannya: jaga kebersihan, jangan terlalu cari sensasi, dan..." 

"JANGAN PERCAYA BEGITU AJA SAMA KONTEN DI INTERNET!" Rian menutup dengan semangat. 

Ketika kamera dimatikan, Pak Joko menepuk punggung Rian. "Lanjut besok bikin konten apa?" 

"Gimana kalau kita review tempat makan yang beneran enak, bukan yang aneh-aneh?" 

Pak Joko mengangguk setuju, sambil membuka sepatu barunya. "Aku janji rajin ganti kaos kaki sekarang. Tapi..." 

"Tapi apa?" 

"Tetep sesekali boleh ya buka bengkel 'Kaki Legend' buat nostalgia?" 

Rian menggeleng sambil tersenyum. "Boleh... asal jangan tiap hari!" 

Di kejauhan, Bu Darmi berteriak: "Ayo makan! Aku masak sambel bawang, nggak pake keringat kaki!" 

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aroma yang menyebar di kampung itu benar-benar wangi.

BERSAMBUNG KE BAB 8.....................TERAKHIR!
 

Selasa, 20 Mei 2025

VIRAL ITU BAU: Bab 6: Konflik



Versus

Rian nyaris menjatuhkan kopinya ketika video viral baru muncul di timeline-nya. Seorang pria berotot dengan kumis ala penjaga warung kopi sedang mengacungkan ketiaknya ke kamera, judul videonya berani: "PAK JOKO TIDAK SENDIRI! AKU PUNYA KETIAK PALING BAU SE-INDONESIA! CHALLENGE DITERIMA?"

"Lho ini apaan sih..." gumam Rian, tapi tangannya sudah refleks menekan tombol play. 

"Para netizen! Aku Bang Jack, juara ketiak bau se-Jabodetabek 3 tahun berturut-turut!" teriak YouTuber itu dengan semangat wira-wiri. "Katanya si Pak Joko yang paling bau? Ini tantangan resmi! Adu bau live! Kaki vs ketiak! Siapa yang bertahan lebih lama mencium, dia menang!" 

Pak Joko yang sedang asyik merendam kakinya di ember berisi larutan sabun khusus (yang jelas-jelas tidak bekerja) langsung melompat. "HAH? SIAPA ITU YANG BERANI-BERANINYA MENANTANGKU?!" 

Rian mencoba menenangkan. "Pak, ini jelas cari sensasi aja. Kita nggak usah—" 

"TIDAK!" raung Pak Joko sambil

 memukul meja, membuat air rendaman kakinya tumpah ke mana-mana. "Ini soal harga diri! Aku tidak bisa membiarkan 'ketiak' mengalahkan 'kaki'! Ini penghinaan untuk seluruh komunitas kaki bau di Indonesia!"

Di layar, Bang Jack tiba-tiba membuka dokumen hasil lab: "Lihat! Tingkat bakteri ketiakku lebih tinggi dari comberan!" sambil mengarahkan kertas ke kamera."

Rian mengernyit. "Hah…Sotosop, hmmmm…." Matanya tertuju pada kertas di layar yang ternyata editannya sangat ketara.

Tiba-tiba telepon berdering. Seorang penyiar radio dengan suara lantang menawarkan: "Kami mau jadi tuan rumah Smell Down 2023! Hadiahnya 50 juta rupiah!"

Pak Joko langsung bersinar matanya. "50 JUTA? UNTUK MENANG? AKU PASTI—" 

"TAPI BAPAK HARUS PAKAI MASKER GAS DULUAN!" potong Rian panik. 

Di luar, kerumunan warga sudah mulai berteriak-teriak: 

"Dukung Pak Joko! Kaki kita harus menang!"

"Team Ketiak lebih authentic!" 

"Aduh, saya aja jadi pengen muntah dengar ini..." 

Bu Marni tiba-tiba muncul dengan semangkuk kacang. "Ayo kita buat taruhan! Saya pasang 100 ribu untuk tim ketiak!" 

Rian memandang Pak Joko yang sekarang sedang latihan pernafasan dalam-dalam—sayangnya justru membuat seluruh ruangan jadi seperti kabut asap. 

"Gawat," bisik Rian sambil menatap notifikasi baru di ponselnya. "Live streaming challenge besok sudah dibooking 10 sponsor, termasuk brand obat cacing dan pabrik karbon aktif..." 

Di kejauhan, terlihat Bang Jack sedang unboxing kipas angin khusus untuk "menyebarkan aroma" saat duel nanti. Perang bau paling absurd sepanjang sejarah internet pun tak terelakkan lagi.

 

Pak Joko Hilang 

Rian membanting pintu kamar kosnya dengan panik. "PAK JOKO HILANG!" teriaknya ke arah Bu Marni yang sedang menggoreng kerupuk. 

"Yang bener? Coba cek di bengkel—" 

"Udah! Ada surat!" Rian mengacungkan secarik kertas bertuliskan huruf-huruf besar tak beraturan: 

"AKU PERGI DETOKS KAKI DI GUNUNG. JANGAN CARI. - JOKO"

Bu Marni mengernyit. "Gunung mana? Yang dekat sini cuma Gunung Kapur, itu pun lebih mirip bukit!" 

Tiba-tiba ponsel Rian berdering. Seorang warga desa sebelah dengan suara gugup melaporkan: "Ada orang aneh di puncak gunung! Rambut gondrong, baju compang-camping, terus... terus kakinya dibungkus daun pisang!" 

Rian langsung ngebut ke lokasi dengan motor bututnya. Saat tiba di lereng gunung, pemandangan tak terduga menyambutnya: 

Puluhan warga berkerumun mengelilingi sosok Pak Joko yang sedang bersila di atas batu besar—kakinya memang terbungkus daun pisang, wajahnya kosong, seperti pertapa sejati. 

"Pak Joko! Kita harus pulang! Besok ada syuting iklan sabun—" 

"SSST!" seorang ibu tua memotong. "Jangan ganggung Mbah Joko! Beliau lagi dapat wangsit dari alam gaib!" 

Rian terbelalak. "Mbah Joko? Ini kan—" 

"Kaki beliau itu keramat!" bisik seorang bapak-bapak. "Tadi pagi ada burung garuda terbang melingkar-lingkar di atas kepalanya!" 

Pak Joko yang mendengar keributan perlahan membuka satu matanya. "Rian... kamu ganggu konsentrasiku. Aku sedang memurnikan aura kakiku." 

"TAPI BESOK ADA DUEL—" 

"DUEL BAU-BAUAN ITU TIDAK PENTING!" teriak Pak Joko tiba-tiba, membuat warga berdecak kagum. "Aku sudah muak jadi tontonan! Aku ingin kakiku dihargai sebagai... sebagai..." 

"SEBAGAI PUSAKA!" teriak salah satu warga antusias. 

Rian memandang Pak Joko yang tiba-tiba dapat "promosi" dari selebriti kaki bau jadi pertapa sakti. Di kejauhan, terlihat rombongan pemuda membawa sesajen dan kemenyan. 

"Pak... ini sudah keterlaluan," bisik Rian putus asa. 

Tapi Pak Joko malah tersenyum bijak. "Rian... kadang kita harus ke gunung dulu, baru tahu bahwa bau kakiku ini adalah anugerah." 

Seorang nenek langsung bersujud. "Wahai Mbah Joko! Berkahilah kami dengan wewangian suci dari kakimu!" 

Rian menatap langit, berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi ketika angin berhembus membawa aroma khas dari balik daun pisang, semua warga serentak: 

"AAAAH... WANGI SURGA!" 

Rian menutup hidungnya, menyadari bahwa monster yang ia ciptakan sudah berevolusi menjadi kultus baru.

  

Rian Intropeksi 

Rian duduk termenung di tepi sungai kecil di kaki gunung, memandangi air keruh yang mengalir pelan. Suara warga yang masih memuja "Mbah Joko" dari kejauhan terdengar samar. 

"Ini semua salahku..." gumamnya, menepuk-nepuk wajah dengan kedua telapak tangan. 

Ponselnya terus bergetar dengan notifikasi: 

- "Team Ketiak udah sampe lokasi duel!" 

- "Sponsor sabun mau cancel kontrak kalau Pak Joko nggak muncul!" 

- "Fans club nangis-nangis minta kaos kaki terakhir!" 

Tiba-tiba, sepatu butut muncul dalam pandangannya. Rian mengangkat kepala dan melihat Pak Joko berdiri di depannya—daun pisang di kakinya sudah mulai layu, tapi senyumnya lebih tenang dari biasanya. 

"Pak, kita harus pulang. Besok ada syuting iklan—" 

"Rian," potong Pak Joko tiba-tiba, suaranya serak. "Aku dulu dijuluki 'Si Kaki Setan' waktu SD." 

Angin berhembus, membawa serta memori lama yang selama ini terkubur. Pak Joko bercerita bagaimana sepatu bututnya selalu jadi bahan ejekan. Teman-teman sekelas menendangnya ke selokan setiap kali ia melepas sepatu. Guru-guru pura-pura tidak melihat, kecuali Bu Surti, yang pernah memberinya kaos kaki bekas sambil berbisik, "Pakai ini, Nak. Biar tidak menyakiti hati orang lain." Tapi kaos kaki itu robek setelah dua hari, dan bau itu kembali—lebih keras, lebih memalukan. 

"Terus aku drop out, kerja serabutan," lanjut Pak Joko, jarinya menggosok kuku kakinya yang menghitam. "Sampai akhirnya bisa beli alat tambal ban. Kupikir, hidup akan tenang. Tapi ternyata..." Ia tertawa getir. "Ternyata nasibku memang jadi bahan tertawaan." 

Rian diam. Ia tidak pernah menyangka di balik tawa dan teriakan marah Pak Joko selama ini, ada luka sekotor kuku-kuku itu. 

"Lalu kenapa Bapak mau terima tawaran iklan? Kenapa tidak marah saja dari awal?" tanya Rian. 

Pak Joko memandang jauh ke lembah. "Karena saat video itu viral, untuk pertama kalinya, orang tidak menendangku. Mereka... datang. Memuji, meski pujiannya aneh." Ia mengangkat kakinya, memperhatikan daun pisang yang mulai mengering. "Aku lelah jadi bahan hinaan, Rian. Lebih baik jadi bahan tawa yang dibayar." 

Suara jangkrik malam mulai terdengar. Di kejauhan, lampu-lampu kampung berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Rian tiba-tiba merasa sangat kecil. Ia datang untuk membawa Pak Joko kembali ke kekacauan yang mereka ciptakan, tapi sekarang ia mengerti: bagi Pak Joko, kekacauan itu mungkin lebih baik daripada dikucilkan. 

"Kita tidak harus terus seperti ini, Pak," bisik Rian. 

Pak Joko tidak menjawab. Ia hanya melepas bungkusan daun pisang itu perlahan, membiarkan angin malam menyapu bau kakinya yang legendaris—bau yang membawanya pada ketenaran, sekaligus mengingatkannya pada luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

"Kamu kesini mau ngajak aku balik buat duel itu ya?" tanya Pak Joko sambil duduk di sampingnya. 

Rian menggeleng, menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca: "Aku kira jadi viral bakal bikin aku bahagia. Tapi malah ngerusak  kita... dan kampung ini." Tangannya menunjuk plang 'Desa Kaki Bau' yang sudah dicoret-coret warga." 

Pak Joko mengeluarkan sebungkus gorengan dari balik bajunya. "Aku juga udah mikir, Rian. Tadi di atas gunung..." 

"Bapak dapat pencerahan?" 

"Dapat kram kaki." Pak Joko menggosok-gosok betisnya dan menghela napas, meletakkan tangannya di bahu Rian. "Aku juga salah, Nak. Dulu marah-marah sama kamu, tapi pas dapat duit banyak malah aku sendiri yang keterusan." Ia memandang kaos kakinya yang bersih. "Kadang, enggak semua yang bikin kita terkenal itu bikin kita baik. Tapi beneran, aku juga capek jadi tontonan. Dulu cuma mau hidup tenang, nambal ban, pulang makan tempe penyet." 

Rian memandangi sungai lagi. "Aku udah ngeksploitasi bapak. Awalnya demi views, terus uang, terus..." 

"Kamu tau kenapa aku kabur ke gunung?" potong Pak Joko tiba-tiba. 

"Karena stress?" 

"Karena aku lupa kapan terakhir kali kakiku nggak dijepret kamera." Pak Joko melepas sisa daun pisang di kakinya. "Aku sampai mimpi dikerubungi netizen pake masker gas." 

Rian tertawa getir. "Kita udah keterlaluan ya?"

"Keterlaluan banget." Pak Joko mengangguk, lalu tersenyum. "Tapi... lumayan dapat duit buat renovasi bengkel." 

Mereka tertawa bersama, suaranya tenggelam dalam gemericik air sungai. Di kejauhan, teriakan fans masih terdengar: 

"Mbah Joko! Kami bawa kemenyan baru!" 

Rian berdiri, mengulurkan tangan ke Pak Joko. "Ayo kita selesaikan ini. Tapi bukan dengan duel bau-bauan." 

Pak Joko menggenggam erat tangannya. "Kamu mau gimana?" 

"Kita buat konten terakhir. Yang bener-bener jujur." 

Sementara itu, dari arah lain, Bang Jack si Ketiak Bau berteriak: 

"HEY! JADI KETIAK KU MENANG OTOMATIS YA?!" 

Pak Joko dan Rian saling memandang, lalu kompak menjawab: 

"IYA! MENANG! SEKARANG MANDI!"

bersambung ke BAB 7......

Senin, 19 Mei 2025

VIRAL ITU BAU Bab 5: Bisnis Kaki Bau



Bagi Hasil
    Bengkel Pak Joko yang biasanya berantakan kini dipenuhi tumpukan kardus berisi produk sabun cuci kaki edisi khusus. Poster besar bergambar Pak Joko tersenyum lebar sambil mengangkat kakinya yang bersepatu menghiasi dinding yang tadinya penuh noda oli. Rian sibuk menghitung uang di meja kecil ketika Pak Joko masuk dengan wajah merah padam membawa selembar cek.
"Tiga puluh juta dari sponsor terakhir," lempar Pak Joko sambil melemparkan cek itu ke meja. Kertas itu mendarat tepat di sebelah kalkulator Rian yang masih menyala. "Tapi kenapa di kontrak tertulis aku cuma dapat sepuluh?"
    Rian menelan ludah. Ia tahu pertengkaran ini akan datang sejak pertama kali menandatangani dokumen itu sendirian minggu lalu. "Bapak kan setuju waktu itu. Lima puluh persen untuk biaya produksi dan promosi. Aku yang urus semua editing, endorse, sampai nego sama brand."
"Setuju?" Pak Joko menepuk dahinya yang mulai berkeringat. "Aku cuma dikasih tanda tangan di kertas yang nggak aku baca! Dikira aku ngerti huruf kecil-kecil bahasa hukum begitu?" Bau khas kakinya yang biasanya muncul saat emosi mulai menyengat lagi, memenuhi ruangan sempit itu.
    Di luar, suara pengunjung yang antre foto dengan plang "Bengkel Kaki Legendary" semakin riuh. Rian menutup pintu kayu yang reyot, mencoba menenangkan suaranya. "Aku nggak nipu Bapak. Semua uang itu buat biaya tim kita. Kameramen, desainer, bahkan Bu Marni minta persen karena kamar kosku jadi tempat penyimpanan merchandise."
    Pak Joko mengeluarkan kaos kaki dari sakunya - sepasang kaos kaki compang-camping yang jadi "merchandise limited edition" seharga lima ratus ribu. "Ini pun aku cuma dapet lima puluh ribu per biji. Yang jual di online shop sampai tiga juta!" Tangannya menggenggam erat kaos kaki itu sampai jari-jarinya memucat.
    Rian merasa tenggorokannya kering. Ia ingat betul bagaimana ide gila menjual kaos kaki bekas itu awalnya hanya candaan saat mabuk kopi. Tapi sekarang segalanya menjadi bisnis besar yang tak terkendali. "Aku bisa revisi kontrak.     Bapak bisa dapet lebih," ujarnya lemah.
"Bukan cuma soal duit, Rian." Pak Joko melemparkan kaos kaki itu ke lantai. "Aku nggak mau jadi bahan di kontenmu lagi. Dikira aku nggak lihat komentar netizen? Ada yang bilang kaki ku kayak sampah nuklir! Ada yang nawarin aku jadi bahan penelitian bakteri!"
    Suara dering telepon Rian memecah ketegangan. Notifikasi dari manajer brand sabun muncul dengan pesan "Live IG jam 4 sore - Pak Joko harus cuci kaki pakai produk kita sambil nyanyi jingle baru!" Rian mematikan layarnya dengan cepat, tapi Pak Joko sudah melihat.
"Pusing aku," gerutu Pak Joko sambil menarik kaos oblong barunya yang bertuliskan "Bau Tapi Kaya". Ia memandang tulisan itu agak lama. "Aku cuma tukang nambal ban, Rian.."
    Rian ingin membantah, tapi di depan mereka bertumpuk produk belum terbuka - sabun kaki edisi Ramadan, kaos kaki autograf, bahkan coklat "rasa khusus" yang katanya terinspirasi aroma khas Pak Joko. Bisnis yang seharusnya membawa keberuntungan justru mengikis persahabatan mereka perlahan. Di luar, seorang anak kecil menangis karena tidak kebagian foto dengan "Si Kaki Ajaib", sementara ibunya berdebat dengan pengunjung lain soal antrean.     Kekacauan yang mereka ciptakan kini hidup mandiri, jauh melampaui kendali dua orang yang memulainya dengan kamera murah dan ide gila di warung kopi.
    Rian menggosok wajah lelah dan berkata: "Pak, aku nggak sanggup lagi. Tiap hari ada aja yang nawarin konten lebih gila. Kemarin disuruh cium kaki Bapak sambil makan bakso, besok mau disuruh apa? Telan kuku Bapak?"
    Pak Joko menyeruput kopi pelan, mata menatap meja: "Aku juga mulai bingung, Nak. Dulu cuma mau nambal ban, trus tiba-tiba dikasih duit banyak buat... apa namanya... eksis? Tapi gimana lagi? Aku butuh itu duit."
Rian mengangkat alis: "Butuh buat apa? Kan Bapak udah dapet dari iklan sabun tadi?"
    Pak Joko berhenti sejenak, jari mengetuk-ngetuk gelas: "Anakku yang nomor dua mau masuk SMA favorit di kota. Biayanya gila. Dulu aku mikir, kerja keras nambal ban seumur hidup pun nggak bakal cukup." Suara Pak Joko rendah, "Makanya pas video itu viral, aku... ya sudahlah. Biar dikatain kaki bau, yang penting dia bisa sekolah."
    Rian terdiam. Di luar, suara anak-anak kampung tertawa mengejar layangan terdengar kontras dengan raut wajah Pak Joko yang tiba-tiba menua.
Dengan suara parau Rian berujar: "Bapak nggak bilang dari dulu..."
Pak Joko tersenyum pahit: "Malu, lah. Dikira aku chaser viral kayak anak muda sekarang." sambil mendorong gelas kopi "Tapi kamu? Kamu bikin konten kayak gitu buat apa? Beneran cuma biar terkenal?"
Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa bau gorengan gosong dari tetangga.     Rian memandang langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba.
"Awalnya iya. Aku mikirnya, kalau udah punya banyak follower, nanti ada yang nawarin endorse, aku bisa bayar utang kos, beli peralatan rekaman beneran..." R    ian menghela napas, "Tapi sekarang malah jadi kayak sirkus. Aku sendiri nggak ngerti lagi mana yang bener, mana yang nggak."
    Pak Joko tiba-tiba ketawa kecil: "Kita berdua ajaib ya? Aku jual bau kaki, kamu jual muka. Dua-duanya nggak banget."
    Mereka tertawa, tapi cepat pudar. Bu Darmi yang tiba-tiba datang melempar kacang ke meja mereka.
    Sambil berjalan Bu Darmi nyeletuk: "Ngobrolin apa sampe muram gitu? Nih, kacang gratis. Daripada mikirin kaki bau, mending mikirin kapan bayar utang kopi!"
    Pak Joko melempar kacang ke mulut: "Besok, Bu! Aku transfer pakai uang endorsement!"
Rian memandang Pak Joko yang sekarang sedang asyik mengunyah, lalu ke gelas kopinya sendiri. Bayangan wajah Bu Marni marah di pintu kos, notifikasi tagar #JusticeForJoko, dan tawaran iklan sabun cuci piring tadi pagi berputar di kepalanya.
    Rian tiba-tiba berbisik: "Kalau... kita berhenti?"
Pak Joko berhenti mengunyah: "Berhenti apa?"
"Viral-viralan. Aku nggak mau Bapak cuma jadi bahan lelucon. Aku juga nggak mau terus-terusan bikin konten sampah." Rian mengusap wajahnya.
    Pak Joko menggosok-gosok jempol kakinya yang mencuat dari sandal jepit. Bau menyengat samar-samar mulai muncul lagi. "Boleh juga. Tapi... nggak sekarang. Tunggu anakku daftar sekolah dulu. Habis itu, kita cari cara lain."
 
Penawaran Sinetron   
    Rian terperanjat ketika sebuah mobil hitam berjendela film mengerem di depan bengkel Pak Joko. Seorang wanita berjas merah menyala melenggang keluar, mengenakan kacamata hitam meski langit sedang mendung. 
"Pak Joko, saya Produser Diana dari PT Dunia Drama Indah," katanya sambil menjabat tangan Pak Joko yang masih belepotan oli. "Kami ingin membeli life story Bapak untuk sinetron prime time!" 
    Pak Joko menggosok-gosok telinganya. "Sinetron? Kayet Ikatan Cinta gitu?" 
"Lebih epic!" seru Produser Diana dengan semangat menjual mimpi. "Cinta Pertama di Antara Bau Kaki—kisah tukang tambal ban sederhana yang jatuh cinta pada dokter kulit cantik!" 
Rian yang berdiri di samping mengernyit. "Tapi kan Pak Joko belum pernah—" 
"SYARATNYA CUMA SATU!" potong sang produser tiba-tiba, mengacungkan jari berlapis cincin. "Bapak harus mau jadi bintang utamanya!" 
    Pak Joko tersedak. "Aku gak bisa akting? Aku cuma tukang tambal ban.
"Tidak perlu khawatir!" Produser Diana mengeluarkan iPad dan memperlihatkan grafik. "Kita sudah riset—rating pasti meledak! Adegan first meet-nya saja sudah gold: si dokter kulit pingsan saat mencium kaki Bapak di klinik!" 
    Rian mencoba masuk lagi. "Tapi Pak Joko tidak punya pengalaman—" 
"BUKAN MASALAH!" teriak produser itu lagi. "Kita akan pakai method acting ekstrim—Pak Joko cukup jadi diri sendiri!" 
Dia mengeluarkan script tebal. "Ini naskah episode 1. Adegan utamanya: Bapak sedang merendam kaki di ember sambil menyanyikan Gemintang versi sedih, lalu dokter kulit masuk dan—" 
    Tiba-tiba Pak Joko menyela dengan suara serak: "Kutunggu... kau datang..." 
Produser Diana terkesima. "LUAR BIASA! Natural sekali ekspresi sedihnya!" 
Rian panik. "Itu bukan akting, Bu... itu suara asli Pak Joko habis makan gorengan terlalu pedas!" 
Tapi sang produser sudah tidak mendengar. "Kita butuh iconic moment!     Bagaimana kalau di akhir episode, Bapak dan dokter kulit kissing scene sambil kaki Bapak direndam di bubble bath sabun anti-bau?" 
Pak Joko tiba-tiba berdiri dramatis. "AKU PASTI BISA! Dulu waktu muda aku sering main drama di karaoke!" 
    Produser Diana bersorak girang. "PERFECT! Syuting mulai besok! Kostumnya sudah kami siapkan—kaos kaki distressed look khusus dan sepatu boot berlubang!" 
Rian menarik napas dalam-dalam. "Bu, mungkin lebih baik pakai aktor profesional—" 
"TIDAK!" bantah produser itu dengan mata berbinar. "Kami mau authenticity!     Penonton akan ship mereka beneran!" 
Saat itu juga, Pak Joko sudah mulai berlatih adegan dengan memeluk ban dalam bekas seolah-olah itu sang dokter kulit. "Jangan pergi, Sayang... aku janji akan rajin pakai foot spray..." 
Produser Diana menitikkan air mata. "This is pure gold!" 
Rian memandang ke arah langit, di mana awan mendung perlahan membentuk pola yang mirip... kaki raksasa. 
Notifikasi di ponselnya berbunyi—sebuah pesan dari grup WhatsApp warga: "Besok semua harus standby! Ada syuting sinetron di kampung kita! Yang mau jadi figuran sebagai 'warga yang pingsan karena bau kaki' langsung daftar! Fee 50rb per pingsan!" 
Di kejauhan, terlihat Bu Darmi sedang mempromosikan jajanan barunya: "Es Kepal Bau Kaki—rasanya sama persis seperti di sinetron!"
 
Rian Jadi Manager
    Rian duduk tercengang di tengah kamar kosnya yang sekarang berubah menjadi kantor darurat. Dindingnya dipenuhi sticky note warna-warni bertuliskan: 
"Sabun cuci kaki - syuting iklan jam 10" 
"Meet & greet di Mall - bawa kaos kaki bekas untuk ditandatangani" 
"Podcast 'Bau tapi Berkah' - jangan lupa bawa ember bekas rendaman kaki" 
Handphone-nya berbunyi tak henti. Seorang produser dengan logat Batak berteriak di telepon: "Jam 3 Pak Joko harus sudah di studio! Kita butuh dia rekam jingle 'Goyang Kaki Bau' untuk iklan minyak kayu putih!" 
    Belum sempat menjawab, pesan WhatsApp masuk dari tim sinetron: "Pak Joko telat shooting! Adegan ciuman sama dokter kulit nunggu 2 jam!" 
Rian menekan pelipisnya. "Pak Joko! Kita harus berangkat dalam 10 menit!" teriaknya ke arah bengkel. 
Pak Joko yang sedang asyik live Instagram sambil menunjukkan telapak kakinya ke kamera malah santai: "Sebentar, lagi viral nih! Ada artis dangdut minta collab!"
    Tiba-tiba Bu Marni menyerbu masuk dengan segunung kaos oblong. "Ini pesanan 50 kaos kaki bekas Pak Joko buat fans club dari Malaysia! Katanya mau dikoleksi dalam display box anti-bau!" 
Rian menghela napas. "Bu, itu kaos kaki bekas beneran atau..." 
"Beneran dong!" sahut Bu Marni bangga. "Aku jemur 3 hari biar aromanya premium!" 
    Di tengah kekacauan, seorang kurir masuk membawa paket. "Saya diutus brand parfum dari Prancis. Mereka mau sponsori Eau de Joko edisi limited!" 
Pak Joko langsung melompat girang. "Lihat, Rian! Aroma kakiku sekarang go international!" 
    Rian menatap kalender di dinding yang sudah penuh coretan. "Pak... besok jam 6 pagi ada sesi foto untuk kalender '12 Pose Kaki Paling Iconik', terus..." 
"Cancel saja!" potong Pak Joko sambil mengangkat kaki ke atas meja. "Aku dapat tawaran lebih wah - jadi bintang tamu di acara masak MasterChef special menu aroma kaki!" 
    Telepon Rian berdering lagi. Kali ini dari rumah sakit: "Kami butuh Pak Joko untuk tes laboratorium. Ada pasien keracunan mau dibandingkan baunya..." 
Rian menatap Pak Joko yang sedang asyik berfoto selfie dengan kaos kakinya yang sudah bertuliskan "Autographed by The Legend Himself". 
"Gaji manager-ku nggak sebanding dengan mental breakdown yang aku alami..." gumamnya lelah, sambil menambahkan sticky note baru: 
"Besok - terapi kejiwaan untuk manager (alias aku)" 
Di luar, teriakan fans Pak Joko sudah mulai ramai: "Kami mau foto sama kakinya! Cuma 5 menit saja! Kami bawa masker gas sendiri!"  
    Rian mengunci pintu kamarnya, tapi kemudian mendengar suara gesekan di jendela - seorang fans nekat memanjat untuk mendapatkan "angin segar" dari kipas angin yang mengarah ke kaos kaki kotor Pak Joko di dalam. 
"Ini sudah di luar kendali..." rengeknya, sambil menyerahkan diri pada takdir sebagai manager selebriti kaki paling bau se-Asia Tenggara. bersambung ke BAB 6...

Klik Judulnya untuk Mendengarkan

👇 KUNTI GUNUNG KAWI Ep.01   "Di tengah kabut abadi Gunung Kawi, terdengar tangisan pilu yang memecah keheningan malam. Penduduk setemp...