Rehabilitasi Kaki
Rian
menyeret sebuah baskom besar berisi larutan ke tengah bengkel Pak Joko, diikuti
oleh warga kampung yang penasaran.
"Kita
mulai terapi tahap satu!" seru Rian, mengacungkan botol berisi cairan
hijau. "Ini obat jamur super dari apotek!"
Pak
Joko memasukkan kakinya dengan ragu. "Aduh... perih!" jeritnya
setelah tiga detik.
Bu
Darmi yang mengintip dari jendela langsung berkomentar, "Wajar, itu kakimu
aja sampai ngebul gitu!"
Tiba-tiba
seorang dukun berjubah ungu nyelonong masuk tanpa permisi. "SALAH SEMUA
CARANYA!" teriaknya sambil mengibaskan tongkat wasiat dari ranting pohon
mangga. "Yang bener begini!"
Dia
mengeluarkan sekantong kopi tubruk merek murah. "Ini resep turun-temurun!
Rendam kaki pakai kopi campur garam dapur, tiga hari tiga malam!"
Rian
mengernyit. "Itu bukannya resep rawon ya, Mbah?"
"SAMA!
Kaki ini juga perlu dibumbui!" sang dukun bersikeras sambil menuang kopi
ke baskom.
Pak
Joko mencoba memasukkan kaki. "Aduh... hangat..."
"Tahan!
Nanti juga nikmat!" sang dukun memijat dengan semangat. "Ini kopi
spesial racikan saya—kopi jahe sereh, biasanya buat obat kucing males
kawin!"
Warga
berkerumun penuh harap ketika Pak Joko mengangkat kakinya setelah 10
menit.
"Gimana,
Pak?" tanya Bu RT penuh harap.
Pak
Joko mengendus. "Bau kopi... tapi..."
"TAPI
APA?" desak Rian.
"Tapi
sekarang baunya kayak kopi basi dicampur keringat kambing," jawab Pak Joko
jujur.
Dukun
itu langsung berseru, "SUKSES! Itu artinya racun sudah keluar!"
Tiba-tiba
seorang anak kecil berteriak, "Kucingku pingsan!" sambil menunjuk ke
arah kucing kampung yang tergolek di dekat baskom.
Rian
menghela napas. "Mungkin kita butuh pendekatan medis yang
lebih..."
"TIDAK!"
potong dukun itu. "Tahap dua lebih ekstrem! Kita pakai rendaman air
rebusan jengkol dan petai!"
Pak
Joko langsung menarik kakinya. "Lebih baik aku tetap bau kaki daripada bau
dikira toilet rusak!"
Di
tengah keributan, Bang Jack si Ketiak Bau muncul di pintu. "Gue punya
solusi..."
Semua
orang menengok.
"Kita
campur aja baunya! Jadi aroma kopi-ketek-kaki! Bisa jadi parfum
baru!"
Rian
memandang langit-langit bengkel yang sudah mulai mengelupas. "Kenapa
solusi kalian selalu bikin masalah tambah parah..."
Sementara
itu, di sudut ruangan, Bu Darmi sudah mulai mencatat resep untuk jajanan baru:
"Kopi Aroma Kaki—Nikmatnya sampai ke jari!"
Konten Terakhir
Rian
mengatur kamera di depan bengkel Pak Joko yang sudah kembali normal, tanpa
dekorasi norak atau plang "Kampung Trendi". Pak Joko duduk dengan
kaos biasa—bukan yang bertuliskan "BAU TAPI TENAR"—dan mengenakan sandal jepit baru yang
masih bersih.
"Oke,
rolling..." Rian memberi isyarat, lalu mulai:
"Netizen
yang kami cintai..." suaranya serius, sangat berbeda dengan nada
over-aktifnya biasanya. "Kami mau jujur tentang semua yang
terjadi."
Kamera
bergerak ke Pak Joko yang mengangguk. "Iya. Aku mau ngakuin sesuatu."
Dia mengangkat kaki yang sudah memakai kaos kaki bersih. "Selama ini...
aku jarang ganti kaos kaki. Paling seminggu sekali. Kadang lupa dua
minggu..."
Rian
menambahkan: "Dan aku mau minta maaf sudah mengeksploitasi keadaan Pak
Joko cuma demi konten." Wajahnya merah. "Awalnya iseng, tapi kemudian
jadi keterusan sampai..."
"Sampe
kampungku jadi sirkus!" sela Pak Joko. "Tapi gak apa-apa, aku juga
seneng dapat duit buat nambah modal bengkel."
Mereka
tertawa kecil. Rian melanjutkan: "Jadi ini konten terakhir tentang...
ehm... aroma kaki. Mulai besok, channel ini akan bahas hal lain."
"Kayak
tutorial benerin ban bocor!" seru Pak Joko antusias.
"Atau
resep masakan Bu Darmi yang nggak pakai bau-bau aneh," tambah Rian sambil
tersenyum.
Di
kolom komentar live streaming, netizen bereaksi:
*"Sedih
tapi mengharukan :')"*
*"Salut
sama kejujuran kalian!"*
*"Tapi
tetep mau dong kaos kaki bekas terakhirnya..."*
Tiba-tiba
Bang Jack si Ketiak Bau muncul di belakang mereka. "Gue juga mau minta
maaf! Ternyata ketek gue cuma bau biasa, kemarin abis makan jengkol
doang!"
Semua
tertawa lepas. Pak Joko mengacungkan jempol ke kamera:
"Jadi
kesimpulannya: jaga kebersihan, jangan terlalu cari sensasi, dan..."
"JANGAN
PERCAYA BEGITU AJA SAMA KONTEN DI INTERNET!" Rian menutup dengan
semangat.
Ketika
kamera dimatikan, Pak Joko menepuk punggung Rian. "Lanjut besok bikin
konten apa?"
"Gimana
kalau kita review tempat makan yang beneran enak, bukan yang
aneh-aneh?"
Pak
Joko mengangguk setuju, sambil membuka sepatu barunya. "Aku janji rajin
ganti kaos kaki sekarang. Tapi..."
"Tapi
apa?"
"Tetep
sesekali boleh ya buka bengkel 'Kaki Legend' buat nostalgia?"
Rian
menggeleng sambil tersenyum. "Boleh... asal jangan tiap hari!"
Di
kejauhan, Bu Darmi berteriak: "Ayo makan! Aku masak sambel bawang, nggak
pake keringat kaki!"
BERSAMBUNG KE BAB 8.....................TERAKHIR!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar