Google Analytics

Kamis, 15 Mei 2025

VIRAL ITU BAU: BAB 2 Viral yang tak Terduga


Ledakan Konten dan Kekacauan

Rian terbangun oleh dering notifikasi yang tak henti-hentinya dari ponselnya. Matanya masih berat ketika ia melihat angka di layar - 10.342.567 views. Air liurnya nyaris menetes saat melihat kolom komentar yang ramai seperti pasar malam.  

"Kaki bau tapi jujur! Aku stan Pak Joko seumur hidup!" tulis @sultan_ganteng77 dengan emoticon hati.  

"Ini mah seni kontemporer! Performance art tentang kehidupan urban!" komentar @art_critic_indo disertai foto analisis panjang.  

Rian menggaruk kepala yang masih bau campuran keringat dan aroma kaki Pak Joko. "Ini beneran viral? Bukan mimpi?" gumamnya sambil mencubit pipinya sendiri.  

Dering ponsel tiba-tiba berubah menjadi nada telepon dari nomor tak dikenal. "Halo?"  

"INI KAMU YANG BUAT VIDEO BAPAK DI TIKTOK?!" suara di seberang menggelegar seperti speaker masjid rusak. Rian langsung mengenali suara itu - Pak Joko dengan logat Jawanya yang kental.  

"Eh... Pak Joko? Saya bisa jelaskan—"  

"JELASIN APA?! SEKARANG JUGA KAMU HAPUS VIDEO ITU ATAU AKU KE KOS-KOSANMU!"  

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Rian yang sedang panik menyaksikan dari jendela kamar kosnya Pak Joko berjalan cepat seperti tentara mau perang, tangan kanan mencengkeram sandal jepit bekas, wajahnya merah padam seperti cabe keriting.  

"RIAN! KELUAR KAMU!" teriak Pak Joko sambil menendang kaleng cat kosong di halaman.  

Bu Marni yang sedang menjemur pakaian langsung menjerit, "Jangan rusak properti saya, Pak!"  

Rian yang ketakutan mengunci pintu kamarnya, tapi tubuh gemuk Pak Joko sudah separuh masuk melalui jendela yang sempit. Adegan absurd pun terjadi, separuh badan Pak Joko terjepit di jendela sambil tangan kirinya mencoba meraih kaki Rian yang sedang berusaha kabur.  

"PAK JOKO TENANG! INI BISA KITA BICARAKAN!" teriak Rian sambil berusaha mendorong bahu Pak Joko yang berkeringat.  

 

"AKU NGAKAK MAU BICARA! YANG AKU MAU ADALAH KEPALA MU DIINJAK SEPATU KU YANG BAU INI!" jawab Pak Joko sambil mengayunkan sandalnya.  

Di tengah kekacauan itu, tetangga-tetangga sudah berkerumun sambil merekam dengan ponsel mereka. Tidak sampai lima menit kemudian, hashtag #SandalJepitJustice sudah trending di Twitter.

 

Netizen versus Real Life 1

Keesokan harinya, warung Bu Darmi berubah menjadi medan perang pendapat. Udara pagi yang biasanya diisi obrolan santai tentang cuaca dan harga sembako, kini penuh dengan debat sengit.  

"Menurutku sih Rian itu kreatif!" seru Bang Ucup sambil menepuk meja, kopinya tumpah sedikit. "Lha wong kampung kita sekarang terkenal! Tadi pagi ada orang dari kecamatan sebelah sengaja mampir mau foto depan bengkel Pak Joko!"  

Bu Darmi menggeleng sambil kasar membersihkan meja. "Kreatif apanya? Mempermalukan orang itu namanya! Pak Joko kan bukan artis!"  

Di sudut lain, sekelompok ibu-ibu PKK berbisik-bisik. "Aku dengar tadi pagi ada wartawan mau mewawancarai Pak Joko," bisik Bu RT sambil matanya berbinar. "Katanya mau jadiin dia bintang iklan sabun cuci!"  

"Sabun cuci apa?" tanya Bu Lurah penasaran.  

"Sabun cuci kaki!" jawab Bu RT dengan yakin, membuat beberapa ibu lainnya terkekeh.  

Sementara itu, di depan bengkel Pak Joko, sekelompok anak muda berkumpul sambil live streaming. "Kita lagi di lokasi viral terbaru, guys!" teriak seorang remaja berkacamata. "Ini nih bengkel si Kaki Bau Legendary!"  

Pak Joko yang sedang duduk di bangku kecil langsung melotot. "Pulang kalian! Ini bukan tempat wisata!"  

Tapi bukannya takut, mereka malah bersorak gembira. "Wah asli marahannya keren banget, Pak! Boleh kita wawancara sebentar?"  

Di sisi lain kampung, Rian bersembunyi di balik pohon mangga, mengintip kerumunan orang di depan kos-kosannya. Beberapa anak muda membawa spanduk bertuliskan "Dukung Kreator Lokal!", sementara kelompok lain meneriakkan "Rian Penghina Warga!"  

Seorang nenek tua tiba-tiba menepuk bahu Rian dari belakang, membuatnya nyaris terjengkang. "Nak, aku punya cucu perempuan single..."  

"Lho?"  

"Nanti kalau kamu sudah kaya dari video itu, mau nggak nikah sama cucuku?"  

Rian hanya bisa menganga, sementara di kejauhan, terlihat Pak Joko sedang mengejar anak-anak streaming itu dengan sapu lidi, teriakan-teriakannya yang kasar malah membuat mereka semakin bersemangat merekam.  

"Warga sini pada gila semua ya," gumam Rian sambil garuk-garuk kepala, tak menyadari bahwa dirinya adalah sumber kegilaan itu.

 

 

 

Netizen vs. Real Life 2  

Rian menggeser layar ponselnya dengan mulut menganga. Dalam semalam, setidaknya ada dua puluh akun Instagram mengklaim sebagai "Pak Joko Official", masing-masing dengan foto profil editan seadanya—ada yang pakai filter mahkota, ada yang di-photoshop jadi superhero dengan latar belakang ledakan.  

"Jual kaos kaki bau limited edition! Langsung dari sumbernya!" tulis salah satu akun dengan gambar kaos bergambar karikatur kaki raksasa mengeluarkan asap hijau.  

"Eh, ini beneran nggak sih?" Rian bergumam, jarinya mengeklik salah satu link toko online. Harganya mencapai Rp 250.000 per potong, dan sudah ada 43 komentar.  

"Kak, ini bajunya beneran bau kayak aslinya?" tanya seorang pembeli.  

"Iya dong! Langsung kami semprot dengan aroma eksklusif Eau de Joko sebelum dikirim!" balas si penjual dengan mantap.  

Rian menggeleng-geleng. "Ini orang-orang nggak ada kerjaan apa?"  

Tiba-tiba, notifikasi WhatsApp-nya berdering. Sebuah grup bernama "Fans Club Kaki Bau (FCKB)" telah menambahkannya. Sebelum sempat keluar, pesan beruntun langsung membanjiri layar.  

"Mas Rian, tolong konfirmasi dong, akun @JokoKakiBau_official itu beneran nggak?"  

"Kami butuh autentifikasi! Kami fans berat Pak Joko!"

"Aku udah beli kaosnya, nih. Katanya ada bonus stiker bekas kaos kaki Pak Joko, bener nggak?"

Rian menghela napas panjang. Di luar, suara motor berhenti di depan kosannya. Pak Joko—yang asli—turun dengan wajah masih merah padam, memegang ponsel bututnya.  

"Kamu lihat ini?!" raungnya, mengacungkan layar yang menampilkan akun Twitter @Joko_TheBauKing dengan bio: "Bau tapi berkelas."  

"Pak, saya juga baru tahu—"  

"AKU DITAWARIN JADI BINTANG IKLAN SABUN CUCI KAKI! DARI AKUN APA INI?!" teriak Pak Joko, sambil memperlihatkan DM dari akun @SabunMujijab_Official. "Pak Joko, kami siap bayar 5 juta per post. Syaratnya, Bapak harus cuci kaki live di Instagram pakai produk kami."  

Rian menelan ludah. "Itu... mungkin penipu, Pak."  

"PENIPU?! KALO BENER BAYAR 5 JUTA GIMANA? AKU BUTUH DUIT UNTUK OPERASI KUKU KAKI!"  

Di tengah keributan, Bu Marni tiba-tiba muncul dari dalam, memegang kaos oblong bergambar kaki raksasa. "Rian, ini ada paket buatmu. Katanya bonus merchandise sama beli kaos 3 lusin."  

Rian memandang kosong ke arah bungkusan itu. Di dalamnya, selain kaos, ada juga "celana pendek anti-bau" dengan tagar #JokoScent, dan sebuah botol kecil berlabel "Parfum Eau de Kaki—Wanginya Bikin Netizen Klepek-Klepek!"  

Pak Joko mengendus-endus botol parfum itu, lalu wajahnya berkerut. "INI BAU APAA?! BAU KERINGET KUDA?!"  

Rian hanya bisa memandang langit-langit, sementara di ponselnya, notifikasi terus berdatangan—tagar #JokoVsFakeJoko sudah trending, dan seseorang baru saja membuat petisi online agar Pak Joko dijadikan maskot kampanye anti-bau kaki nasional.  

"Ini sudah di luar kendali," gumamnya, sambil diam-diam memesan dua kaos kaki bau limited edition untuk koleksi pribadi.

 

 

Sponsor Dadakan  

Rian nyaris tersedak kopinya ketika panggilan video masuk dari nomor tak dikenal. Di layar, seorang pria berkemeja rapih dengan background logo sabun berwarna hijau menyeringai lebar.  

"Pak Joko? Benar sekali! Kami dari PT Sabun Segar Sejahtera ingin menawarkan kerja sama eksklusif!" suara pria itu bergema seperti presenter TV belanja.  

Pak Joko yang dipaksa Rian ikut videocall mengerutkan kening, wajahnya masih terlihat kesal sejak pagi tadi. "Kerja apaan?"  

"Bapak akan kami bayar 10 juta rupiah per iklan! Syaratnya sederhana..." Pria itu tiba-tiba mengeluarkan storyboard. "Bapak harus pura-purai menangis sambil cuci kaki pakai produk kami. Air matanya harus keluar, lalu tersenyum lega setelah kakinya wangi!"  

Rian yang berdiri di belakang Pak Joko langsung memegang dahinya. "Mas, ini terlalu berlebihan..."  

"Justru ini akan jadi iklan terbaik tahun ini!" sela si marketing dengan semangat. "Konsepnya: dari air mata pahit jadi senyum manis! Kita bisa pakai lagu sedih di background, terus slow motion saat air matanya jatuh!"  

Pak Joko menyilangkan tangan. "Aku nggak bisa nangis-nangis gituan!"  

"Tenang Pak!" Marketing itu mengeluarkan botol kecil dari sakunya. "Kami sudah siapkan obat tetes mata pedas khusus. Dijamin air mata akan mengalir deras! Bahkan kami bisa tambah efek CGI biar lebih dramatis!"  

Di sebelah, Rian menggeleng-geleng sambil berbisik, "Pak, ini nggak normal..."  

Tapi marketing itu terus memanas-manasi. "Bayangkan Pak! Selain fee 10 juta, Bapak juga dapat free sabun seumur hidup! Kita bisa buat series iklan: 'Pak Joko Journey from Bau to Wow!'"  

Pak Joko tiba-tiba berdiri. "Aku mau 15 juta! Plus... plus..." matanya berputar-putar mencari ide, "Plus iklan sampingan buat bengkel tambal ban aku!"  

Marketing itu langsung bersorak. "Deal! Kita bisa pakai tagline: 'Dari ban bocor sampai kaki wangi, semua ada solusinya!'"  

Rian yang menyaksikan negosiasi gila ini hanya bisa memandang kosong ke dinding, sementara di ponselnya muncul notifikasi email baru dari sebuah brand kaos kaki dengan subject: "Tawaran Kolaborasi - Paket Sabun + Kaos Kaki Bundling Special Edition!"  

"Kampung kita sudah jadi pasar bebas kegilaan," gumamnya, tepat ketika Bu Marni berteriak dari dapur, "Rian! Ada produser sinetron mau nawarin jadi bintang tamu! Katanya mau bikin episode 'Kaki Bau Pembawa Rezeki'!"  

Pak Joko yang mendengar langsung berseru, "Kalau mau aku main, tarifku 20 juta per episode! Plus... plus... camekan di iklan sabun cuci piring!"  

Marketing di layar langsung bersemangat, "Wah bisa kita bundle paketnya! Beli sabun kaki gratis sabun cuci piring!"  

Rian menutup wajah dengan tangan, menyadari bahwa peluang yang ia ciptakan sudah benar-benar lepas kendali. bersambung ke BAB 3... 

Klik Judulnya untuk Mendengarkan

👇 KUNTI GUNUNG KAWI Ep.01   "Di tengah kabut abadi Gunung Kawi, terdengar tangisan pilu yang memecah keheningan malam. Penduduk setemp...