Versus
Rian nyaris menjatuhkan kopinya ketika video viral baru muncul
di timeline-nya. Seorang pria berotot dengan kumis ala penjaga warung kopi
sedang mengacungkan ketiaknya ke kamera, judul videonya berani: "PAK JOKO
TIDAK SENDIRI! AKU PUNYA KETIAK PALING BAU SE-INDONESIA! CHALLENGE
DITERIMA?"
"Lho ini apaan sih..." gumam Rian, tapi tangannya
sudah refleks menekan tombol play.
"Para netizen! Aku Bang Jack, juara ketiak bau
se-Jabodetabek 3 tahun berturut-turut!" teriak YouTuber itu dengan
semangat wira-wiri. "Katanya si Pak Joko yang paling bau? Ini tantangan
resmi! Adu bau live! Kaki vs ketiak! Siapa yang bertahan lebih lama mencium,
dia menang!"
Pak Joko yang sedang asyik merendam kakinya di ember berisi
larutan sabun khusus (yang jelas-jelas tidak bekerja) langsung melompat.
"HAH? SIAPA ITU YANG BERANI-BERANINYA
MENANTANGKU?!"
Rian mencoba menenangkan. "Pak, ini jelas cari sensasi aja.
Kita nggak usah—"
"TIDAK!" raung Pak Joko sambil
memukul meja, membuat
air rendaman kakinya tumpah ke mana-mana. "Ini soal harga diri! Aku tidak
bisa membiarkan 'ketiak' mengalahkan 'kaki'! Ini penghinaan untuk seluruh
komunitas kaki bau di Indonesia!"
Di layar, Bang Jack tiba-tiba membuka dokumen hasil lab: "Lihat! Tingkat bakteri ketiakku lebih tinggi dari comberan!" sambil mengarahkan kertas ke kamera."
Rian mengernyit. "Hah…Sotosop, hmmmm…." Matanya tertuju pada kertas di layar yang ternyata editannya sangat ketara.
Tiba-tiba telepon berdering. Seorang penyiar radio dengan suara
lantang menawarkan: "Kami mau jadi tuan rumah Smell Down 2023! Hadiahnya
50 juta rupiah!"
Pak Joko langsung bersinar matanya. "50 JUTA? UNTUK MENANG?
AKU PASTI—"
"TAPI BAPAK HARUS PAKAI MASKER GAS DULUAN!" potong
Rian panik.
Di luar, kerumunan warga sudah mulai berteriak-teriak:
"Dukung Pak Joko! Kaki kita harus menang!"
"Team Ketiak lebih authentic!"
"Aduh, saya aja jadi pengen muntah dengar ini..."
Bu Marni tiba-tiba muncul dengan semangkuk kacang. "Ayo
kita buat taruhan! Saya pasang 100 ribu untuk tim ketiak!"
Rian memandang Pak Joko yang sekarang sedang latihan pernafasan
dalam-dalam—sayangnya justru membuat seluruh ruangan jadi seperti kabut asap.
"Gawat," bisik Rian sambil menatap notifikasi baru di
ponselnya. "Live streaming challenge besok sudah dibooking 10 sponsor,
termasuk brand obat cacing dan pabrik karbon aktif..."
Di kejauhan, terlihat Bang Jack sedang unboxing kipas angin
khusus untuk "menyebarkan aroma" saat duel nanti. Perang bau paling
absurd sepanjang sejarah internet pun tak terelakkan lagi.
Pak Joko Hilang
Rian membanting pintu kamar kosnya dengan panik. "PAK JOKO
HILANG!" teriaknya ke arah Bu Marni yang sedang menggoreng kerupuk.
"Yang bener? Coba cek di bengkel—"
"Udah! Ada surat!" Rian mengacungkan secarik kertas
bertuliskan huruf-huruf besar tak beraturan:
"AKU PERGI DETOKS KAKI DI GUNUNG. JANGAN CARI. - JOKO"
Bu Marni mengernyit. "Gunung mana? Yang dekat sini cuma
Gunung Kapur, itu pun lebih mirip
bukit!"
Tiba-tiba ponsel Rian berdering. Seorang warga desa sebelah
dengan suara gugup melaporkan: "Ada orang aneh di puncak gunung! Rambut
gondrong, baju compang-camping, terus... terus kakinya dibungkus daun
pisang!"
Rian langsung ngebut ke lokasi dengan motor bututnya. Saat tiba
di lereng gunung, pemandangan tak terduga menyambutnya:
Puluhan warga berkerumun mengelilingi sosok Pak Joko yang sedang
bersila di atas batu besar—kakinya memang terbungkus daun pisang, wajahnya
kosong, seperti pertapa sejati.
"Pak Joko! Kita harus pulang! Besok ada syuting iklan
sabun—"
"SSST!" seorang ibu tua memotong. "Jangan
ganggung Mbah Joko! Beliau lagi dapat wangsit dari alam gaib!"
Rian terbelalak. "Mbah Joko? Ini kan—"
"Kaki beliau itu keramat!" bisik seorang bapak-bapak.
"Tadi pagi ada burung garuda terbang melingkar-lingkar di atas
kepalanya!"
Pak Joko yang mendengar keributan perlahan membuka satu matanya.
"Rian... kamu ganggu konsentrasiku. Aku sedang memurnikan aura
kakiku."
"TAPI BESOK ADA DUEL—"
"DUEL BAU-BAUAN ITU TIDAK PENTING!" teriak Pak Joko
tiba-tiba, membuat warga berdecak kagum. "Aku sudah muak jadi tontonan!
Aku ingin kakiku dihargai sebagai... sebagai..."
"SEBAGAI PUSAKA!" teriak salah satu warga antusias.
Rian memandang Pak Joko yang tiba-tiba dapat "promosi"
dari selebriti kaki bau jadi pertapa sakti. Di kejauhan, terlihat rombongan
pemuda membawa sesajen dan kemenyan.
"Pak... ini sudah keterlaluan," bisik Rian putus
asa.
Tapi Pak Joko malah tersenyum bijak. "Rian... kadang kita
harus ke gunung dulu, baru tahu bahwa bau kakiku ini adalah
anugerah."
Seorang nenek langsung bersujud. "Wahai Mbah Joko!
Berkahilah kami dengan wewangian suci dari kakimu!"
Rian menatap langit, berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi ketika
angin berhembus membawa aroma khas dari balik daun pisang, semua warga
serentak:
"AAAAH... WANGI SURGA!"
Rian menutup hidungnya, menyadari bahwa monster yang ia ciptakan
sudah berevolusi menjadi kultus baru.
Rian Intropeksi
Rian duduk termenung di tepi sungai kecil di kaki gunung,
memandangi air keruh yang mengalir pelan. Suara warga yang masih memuja
"Mbah Joko" dari kejauhan terdengar samar.
"Ini semua salahku..." gumamnya, menepuk-nepuk wajah
dengan kedua telapak tangan.
Ponselnya terus bergetar dengan notifikasi:
- "Team Ketiak udah sampe lokasi duel!"
- "Sponsor sabun mau cancel kontrak kalau Pak Joko nggak
muncul!"
- "Fans club nangis-nangis minta kaos kaki
terakhir!"
Tiba-tiba, sepatu butut muncul dalam pandangannya. Rian
mengangkat kepala dan melihat Pak Joko berdiri di depannya—daun pisang di
kakinya sudah mulai layu, tapi senyumnya lebih tenang dari biasanya.
"Pak, kita harus pulang. Besok ada syuting
iklan—"
"Rian," potong Pak Joko tiba-tiba, suaranya serak.
"Aku dulu dijuluki 'Si Kaki Setan' waktu SD."
Angin berhembus, membawa serta memori lama yang selama ini
terkubur. Pak Joko bercerita bagaimana sepatu bututnya selalu jadi bahan
ejekan. Teman-teman sekelas menendangnya ke selokan setiap kali ia melepas
sepatu. Guru-guru pura-pura tidak melihat, kecuali Bu Surti, yang pernah
memberinya kaos kaki bekas sambil berbisik, "Pakai ini, Nak. Biar tidak
menyakiti hati orang lain." Tapi kaos kaki itu robek setelah dua hari, dan
bau itu kembali—lebih keras, lebih memalukan.
"Terus aku drop out, kerja serabutan," lanjut Pak
Joko, jarinya menggosok kuku kakinya yang menghitam. "Sampai akhirnya bisa
beli alat tambal ban. Kupikir, hidup akan tenang. Tapi ternyata..." Ia
tertawa getir. "Ternyata nasibku memang jadi bahan tertawaan."
Rian diam. Ia tidak pernah menyangka di balik tawa dan teriakan
marah Pak Joko selama ini, ada luka sekotor kuku-kuku itu.
"Lalu kenapa Bapak mau terima tawaran iklan? Kenapa tidak
marah saja dari awal?" tanya Rian.
Pak Joko memandang jauh ke lembah. "Karena saat video itu
viral, untuk pertama kalinya, orang tidak menendangku. Mereka... datang.
Memuji, meski pujiannya aneh." Ia mengangkat kakinya, memperhatikan daun
pisang yang mulai mengering. "Aku lelah jadi bahan hinaan, Rian. Lebih
baik jadi bahan tawa yang dibayar."
Suara jangkrik malam mulai terdengar. Di kejauhan, lampu-lampu
kampung berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Rian tiba-tiba merasa sangat
kecil. Ia datang untuk membawa Pak Joko kembali ke kekacauan yang mereka
ciptakan, tapi sekarang ia mengerti: bagi Pak Joko, kekacauan itu mungkin lebih
baik daripada dikucilkan.
"Kita tidak harus terus seperti ini, Pak," bisik
Rian.
Pak Joko tidak menjawab. Ia hanya melepas bungkusan daun pisang
itu perlahan, membiarkan angin malam menyapu bau kakinya yang legendaris—bau
yang membawanya pada ketenaran, sekaligus mengingatkannya pada luka yang tak
pernah benar-benar sembuh.
"Kamu kesini mau ngajak aku balik buat duel itu ya?"
tanya Pak Joko sambil duduk di sampingnya.
Rian menggeleng, menarik
napas dalam, matanya berkaca-kaca: "Aku kira jadi viral bakal bikin aku bahagia. Tapi malah ngerusak kita... dan kampung ini."
Tangannya menunjuk plang 'Desa Kaki Bau' yang sudah dicoret-coret warga."
Pak Joko mengeluarkan sebungkus gorengan dari balik bajunya.
"Aku juga udah mikir, Rian. Tadi di atas gunung..."
"Bapak dapat pencerahan?"
"Dapat kram kaki." Pak Joko menggosok-gosok betisnya dan menghela napas, meletakkan tangannya di bahu Rian. "Aku juga
salah, Nak. Dulu marah-marah sama kamu, tapi pas dapat duit banyak malah aku
sendiri yang keterusan." Ia memandang kaos kakinya yang bersih.
"Kadang, enggak semua yang bikin kita terkenal itu bikin kita baik. Tapi
beneran, aku juga capek jadi tontonan. Dulu cuma mau hidup tenang, nambal ban,
pulang makan tempe penyet."
Rian memandangi sungai lagi. "Aku udah ngeksploitasi bapak.
Awalnya demi views, terus uang, terus..."
"Kamu tau kenapa aku kabur ke gunung?" potong Pak Joko
tiba-tiba.
"Karena stress?"
"Karena aku lupa kapan terakhir kali kakiku nggak dijepret
kamera." Pak Joko melepas sisa daun pisang di kakinya. "Aku sampai
mimpi dikerubungi netizen pake masker gas."
Rian tertawa getir. "Kita udah keterlaluan ya?"
"Keterlaluan banget." Pak Joko mengangguk, lalu
tersenyum. "Tapi... lumayan dapat duit buat renovasi bengkel."
Mereka tertawa bersama, suaranya tenggelam dalam gemericik air
sungai. Di kejauhan, teriakan fans masih terdengar:
"Mbah Joko! Kami bawa kemenyan baru!"
Rian berdiri, mengulurkan tangan ke Pak Joko. "Ayo kita
selesaikan ini. Tapi bukan dengan duel bau-bauan."
Pak Joko menggenggam erat tangannya. "Kamu mau
gimana?"
"Kita buat konten terakhir. Yang bener-bener
jujur."
Sementara itu, dari arah lain, Bang Jack si Ketiak Bau
berteriak:
"HEY! JADI KETIAK KU MENANG OTOMATIS YA?!"
Pak Joko dan Rian saling memandang, lalu kompak menjawab:
"IYA! MENANG! SEKARANG MANDI!"
bersambung ke BAB 7......
