Google Analytics

Selasa, 13 Mei 2025

VIRAL ITU BAU: BAB 1 Awal yang tidak mulia

TikToker Kampung

Rian menatap layar ponselnya dengan pandangan lesu, jari telunjuknya terus menggesek ke atas tanpa semangat. Video mukbang sambalnya yang diupload seminggu lalu hanya mendapat 127 views—itu pun kebanyakan dari akun-akun bot yang komentarnya cuma "Nice info gan" atau "Keren banget". Padahal, demi konten itu, ia sampai muntah-muntah setelah melahap sepuluh cabai rawit dalam tiga menit.  

"Lagi-lagi gagal," gerutunya sambil menjatuhkan diri ke kasur yang sudah reyot. Matanya menatap langit-langit kamar kos yang bocor di sudut kiri, tepat di atas meja kerjanya yang dipenuhi peralatan seadanya: ring light bekas yang salah satu kakinya harus disangga buku telepon kuning, tripod murahan yang kadang tiba-tiba meliput sendiri, dan beberapa bungkus mie instan sisa sarapan.  

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbanting. "Rian! Kapan mau bayar sewa? Sudah tiga bulan nunggak!" teriak Bu Marni, pemilik kos, dengan suara yang lebih nyaring daripada speaker TikTok-nya. Wajahnya merah padam, tangan kanan mencengkeram sapu lidi seperti hendak menghajar.  

"A... Aku sedang proses, Bu! Kontenku sebentar lagi viral, nanti langsung lunas—"  

"Viral-viral! Dasar anak muda sekarang! Kerja beneran nggak bisa, cuma modal ngomong doang!" Bu Marni menghela napas panjang. "Dua hari lagi kalau nggak bayar, barang-barangmu aku jual buat ganti rugi! Lighting nggak jelas itu kubuang saja!"  

Pintu kembali dibanting. Rian menghela napas, matanya kembali ke layar ponsel. Notifikasi muncul: video challenge tepung terbarunya dapat 2 like—satu dari akunnya sendiri, satu lagi dari nomor tak dikenal yang mungkin spam.  

"Harus ada ide lebih gila," gumamnya sambil menggaruk kepala. Di luar, suara tukang bakso lewat berpadu dengan tawa anak-anak yang sedang menirukan dance TikTok. Rian merasa seperti orang paling ketinggalan zaman di kampungnya sendiri. Padahal, ia sudah mencoba segala cara: dari challenge minum kecap sampai review tempat makan yang akhirnya membuatnya diusir pemilik warung karena komen "nasinya keras kayak batu".  

Dengan sisa uang terakhir di dompet—selembar dua puluh ribuan yang sudah lusuh—ia memutuskan untuk membeli kopi di warung sebelah. Mungkin kafein bisa membantunya menemukan ide konten yang akhirnya membuatnya terkenal. Atau setidaknya, cukup untuk membayar sewa sebelum Bu Marni benar-benar melemparkan barang-barangnya ke jalan.

 

Legenda Kaki 

Rian menyeruput kopi tubruk di warung Bu Darmi sambil setengah sadar mendengar obrolan para tetua kampung yang duduk melingkar di meja sebelah. Asap rokok kretek dan aroma tempe mendoan menggantung di udara lembab sore itu.  

"Eh, kalian udah dengar belum soal kaki si Joko itu?" tanya Pak RT sambil mengetuk-ngetuk abu rokoknya ke kaleng bekas. Matanya berbinar seperti sedang membicarakan harta karun.  

"Ah, si tukang tambal ban di ujung jalan itu?" sahut Bang Ucup sambil menggeleng-geleng. "Aku seminggu lalu numpang tambal ban di situ. Dasar! Begitu dia lepas sepatunya, langsung kayak ada bom busuk meledak! Aku sampai muntah di selokan depan warungnya!"  

Bu Darmi yang sedang menuang kopi tertawa terkekeh. "Itu mah belum apa-apa. Waktu itu ada sales obat nyamuk nawarin barang ke dia. Begitu masuk rumah, belum lima menit langsung kabur sambil nangis-nangis! Katanya baunya lebih efektif daripada obat nyamuk dagangannya!"  

Rian yang awalnya tak acuh mulai menyimak dengan serius. "Beneran sebau itu, Pak?" tanyanya penasaran.  

"Bocah ini nggak percaya!" sindir Pak RT sambil menepuk paha. "Pernah ada kejadian, waktu pengajian di musholla, sandalnya Joko disangka limbah pabrik! Dikira ada kebocoran gas sampai pak ustadznya minta evakuasi!"  

"Yang paling parah tuh kucing-kucing sekitar rumahnya," sambung Bang Ucup dengan mimik serius. "Biasanya kan kucing suka numpang tidur di teras. Nah, di rumah Joko? Jangankan tidur, lewat aja pada pingsan! Minggu lalu ada tiga ekor kucing ambruk berjamaah di depan pintunya!"  

Bu Darmi menambahkan sambil terkekeh, "Kukunya itu loh... tebelnya kayak lapis baja! Katanya sih terakhir dipotong zaman reformasi. Kalau dikerok bisa jadi pupuk organik!"  

Rian mengernyit, tapi tiba-tiba matanya berbinar. Di kepalanya, sebuah ide gila mulai bersemi.

 

Ide dan Kenekatan

Rian menggigit bibir bawahnya sambil mematung di depan bengkel tambal ban Pak Joko, kameranya sudah dalam mode rekaman dan tersembunyi di balik tas selempang. Dadanya berdebar kencang seperti pertama kali live streaming.  

"Ah, ini ide paling bodoh atau paling brilian yang pernah kupikirkan," gumamnya sambil mengatur napas. Dengan gaya sok santai, ia melangkah masuk sambil pura-pura memeriksa ban sepeda motor tua di teras.  

"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya Pak Joko tanpa menengok, tangannya asyik memutar ban dalam yang bocor.  

"Emm... Saya mau cari ban bekas buat kerajinan tangan, Pak," Rian mengarang cepat sambil perlahan menggeser posisi untuk mendapatkan angle terbaik. Matanya menyipit saat melihat sepatu boot kotor Pak Joko yang sudah menganga di ujung kaki.  

"Ban bekas? Yang ukuran berapa?" Pak Joko akhirnya menoleh, membuat Rian kaget setengah mati dan nyaris menjatuhkan hp-nya.  

"Y-Yang... ukuran standar saja, Pak!" jawabnya gugup sambil melangkah lagi mendekat, kamera sekarang fokus ke sepatu yang sudah terlepas sebagian itu. Bau menusuk mulai menyergap hidungnya, tapi ia bertahan demi konten.  

Tiba-tiba Pak Joko membungkuk untuk mengambil lap. Kesempatan! Rian segera mengarahkan kamera dan perlahan maju selangkah. Saat itulah tragedi terjadi, kakinya tersandung baut dan badannya terjungkal persis di depan kaki telanjang Pak Joko.  

"DUARRR!!"  

Suara itu bukan ledakan, tapi bau yang tiba-tiba menyerbu seperti gelombang tsunami. Matanya langsung berair, tenggorokannya terasa terbakar.  

"Loh kok jatuh? Ini anak..." Pak Joko beranjak hendak menolong.  

"Tidak usah Pak!!" Rian menjerit sambil merangkak mundur, tapi tangannya masih nekat memastikan rekaman tetap berjalan. Di layar hp, terlihat jelas kakinya yang bersisik kekuningan dengan kuku hitam legam itu bergerak mendekat.  

"Tahan... napas..." bisiknya pada diri sendiri sambil wajahnya mulai membiru. Di sudut pandang kamera, matanya yang melotot dan pipi yang mengembang seperti kodok menjadi bukti perjuangan heroiknya melawan alam. bersambung ke BAB 2...

Klik Judulnya untuk Mendengarkan

👇 KUNTI GUNUNG KAWI Ep.01   "Di tengah kabut abadi Gunung Kawi, terdengar tangisan pilu yang memecah keheningan malam. Penduduk setemp...