
Bagi Hasil
Bengkel Pak Joko yang biasanya berantakan kini dipenuhi tumpukan kardus berisi produk sabun cuci kaki edisi khusus. Poster besar bergambar Pak Joko tersenyum lebar sambil mengangkat kakinya yang bersepatu menghiasi dinding yang tadinya penuh noda oli. Rian sibuk menghitung uang di meja kecil ketika Pak Joko masuk dengan wajah merah padam membawa selembar cek.
"Tiga puluh juta dari sponsor terakhir," lempar Pak Joko sambil melemparkan cek itu ke meja. Kertas itu mendarat tepat di sebelah kalkulator Rian yang masih menyala. "Tapi kenapa di kontrak tertulis aku cuma dapat sepuluh?"
Rian menelan ludah. Ia tahu pertengkaran ini akan datang sejak pertama kali menandatangani dokumen itu sendirian minggu lalu. "Bapak kan setuju waktu itu. Lima puluh persen untuk biaya produksi dan promosi. Aku yang urus semua editing, endorse, sampai nego sama brand."
"Setuju?" Pak Joko menepuk dahinya yang mulai berkeringat. "Aku cuma dikasih tanda tangan di kertas yang nggak aku baca! Dikira aku ngerti huruf kecil-kecil bahasa hukum begitu?" Bau khas kakinya yang biasanya muncul saat emosi mulai menyengat lagi, memenuhi ruangan sempit itu.
Di luar, suara pengunjung yang antre foto dengan plang "Bengkel Kaki Legendary" semakin riuh. Rian menutup pintu kayu yang reyot, mencoba menenangkan suaranya. "Aku nggak nipu Bapak. Semua uang itu buat biaya tim kita. Kameramen, desainer, bahkan Bu Marni minta persen karena kamar kosku jadi tempat penyimpanan merchandise."
Pak Joko mengeluarkan kaos kaki dari sakunya - sepasang kaos kaki compang-camping yang jadi "merchandise limited edition" seharga lima ratus ribu. "Ini pun aku cuma dapet lima puluh ribu per biji. Yang jual di online shop sampai tiga juta!" Tangannya menggenggam erat kaos kaki itu sampai jari-jarinya memucat.
Rian merasa tenggorokannya kering. Ia ingat betul bagaimana ide gila menjual kaos kaki bekas itu awalnya hanya candaan saat mabuk kopi. Tapi sekarang segalanya menjadi bisnis besar yang tak terkendali. "Aku bisa revisi kontrak. Bapak bisa dapet lebih," ujarnya lemah.
"Bukan cuma soal duit, Rian." Pak Joko melemparkan kaos kaki itu ke lantai. "Aku nggak mau jadi bahan di kontenmu lagi. Dikira aku nggak lihat komentar netizen? Ada yang bilang kaki ku kayak sampah nuklir! Ada yang nawarin aku jadi bahan penelitian bakteri!"
"Pusing aku," gerutu Pak Joko sambil menarik kaos oblong barunya yang bertuliskan "Bau Tapi Kaya". Ia memandang tulisan itu agak lama. "Aku cuma tukang nambal ban, Rian.."
Rian menggosok wajah lelah dan berkata: "Pak, aku nggak sanggup lagi. Tiap hari ada aja yang nawarin konten lebih gila. Kemarin disuruh cium kaki Bapak sambil makan bakso, besok mau disuruh apa? Telan kuku Bapak?"
Pak Joko menyeruput kopi pelan, mata menatap meja: "Aku juga mulai bingung, Nak. Dulu cuma mau nambal ban, trus tiba-tiba dikasih duit banyak buat... apa namanya... eksis? Tapi gimana lagi? Aku butuh itu duit."
Rian mengangkat alis: "Butuh buat apa? Kan Bapak udah dapet dari iklan sabun tadi?"
Pak Joko berhenti sejenak, jari mengetuk-ngetuk gelas: "Anakku yang nomor dua mau masuk SMA favorit di kota. Biayanya gila. Dulu aku mikir, kerja keras nambal ban seumur hidup pun nggak bakal cukup." Suara Pak Joko rendah, "Makanya pas video itu viral, aku... ya sudahlah. Biar dikatain kaki bau, yang penting dia bisa sekolah."
Rian terdiam. Di luar, suara anak-anak kampung tertawa mengejar layangan terdengar kontras dengan raut wajah Pak Joko yang tiba-tiba menua.
Dengan suara parau Rian berujar: "Bapak nggak bilang dari dulu..."
Pak Joko tersenyum pahit: "Malu, lah. Dikira aku chaser viral kayak anak muda sekarang." sambil mendorong gelas kopi "Tapi kamu? Kamu bikin konten kayak gitu buat apa? Beneran cuma biar terkenal?"
Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa bau gorengan gosong dari tetangga. Rian memandang langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba.
"Awalnya iya. Aku mikirnya, kalau udah punya banyak follower, nanti ada yang nawarin endorse, aku bisa bayar utang kos, beli peralatan rekaman beneran..." R ian menghela napas, "Tapi sekarang malah jadi kayak sirkus. Aku sendiri nggak ngerti lagi mana yang bener, mana yang nggak."
Pak Joko tiba-tiba ketawa kecil: "Kita berdua ajaib ya? Aku jual bau kaki, kamu jual muka. Dua-duanya nggak banget."
Mereka tertawa, tapi cepat pudar. Bu Darmi yang tiba-tiba datang melempar kacang ke meja mereka.
Sambil berjalan Bu Darmi nyeletuk: "Ngobrolin apa sampe muram gitu? Nih, kacang gratis. Daripada mikirin kaki bau, mending mikirin kapan bayar utang kopi!"
Pak Joko melempar kacang ke mulut: "Besok, Bu! Aku transfer pakai uang endorsement!"
Rian memandang Pak Joko yang sekarang sedang asyik mengunyah, lalu ke gelas kopinya sendiri. Bayangan wajah Bu Marni marah di pintu kos, notifikasi tagar #JusticeForJoko, dan tawaran iklan sabun cuci piring tadi pagi berputar di kepalanya.
Rian tiba-tiba berbisik: "Kalau... kita berhenti?"
Pak Joko berhenti mengunyah: "Berhenti apa?"
"Viral-viralan. Aku nggak mau Bapak cuma jadi bahan lelucon. Aku juga nggak mau terus-terusan bikin konten sampah." Rian mengusap wajahnya.
Pak Joko menggosok-gosok jempol kakinya yang mencuat dari sandal jepit. Bau menyengat samar-samar mulai muncul lagi. "Boleh juga. Tapi... nggak sekarang. Tunggu anakku daftar sekolah dulu. Habis itu, kita cari cara lain."
Penawaran Sinetron
"Pak Joko, saya Produser Diana dari PT Dunia Drama Indah," katanya sambil menjabat tangan Pak Joko yang masih belepotan oli. "Kami ingin membeli life story Bapak untuk sinetron prime time!"
Pak Joko menggosok-gosok telinganya. "Sinetron? Kayet Ikatan Cinta gitu?"
"Lebih epic!" seru Produser Diana dengan semangat menjual mimpi. "Cinta Pertama di Antara Bau Kaki—kisah tukang tambal ban sederhana yang jatuh cinta pada dokter kulit cantik!"
Rian yang berdiri di samping mengernyit. "Tapi kan Pak Joko belum pernah—"
"SYARATNYA CUMA SATU!" potong sang produser tiba-tiba, mengacungkan jari berlapis cincin. "Bapak harus mau jadi bintang utamanya!"
Pak Joko tersedak. "Aku gak bisa akting? Aku cuma tukang tambal ban."
Rian mencoba masuk lagi. "Tapi Pak Joko tidak punya pengalaman—"
"BUKAN MASALAH!" teriak produser itu lagi. "Kita akan pakai method acting ekstrim—Pak Joko cukup jadi diri sendiri!"
Dia mengeluarkan script tebal. "Ini naskah episode 1. Adegan utamanya: Bapak sedang merendam kaki di ember sambil menyanyikan Gemintang versi sedih, lalu dokter kulit masuk dan—"
Tiba-tiba Pak Joko menyela dengan suara serak: "Kutunggu... kau datang..."
Produser Diana terkesima. "LUAR BIASA! Natural sekali ekspresi sedihnya!"
Rian panik. "Itu bukan akting, Bu... itu suara asli Pak Joko habis makan gorengan terlalu pedas!"
Tapi sang produser sudah tidak mendengar. "Kita butuh iconic moment! Bagaimana kalau di akhir episode, Bapak dan dokter kulit kissing scene sambil kaki Bapak direndam di bubble bath sabun anti-bau?"
Pak Joko tiba-tiba berdiri dramatis. "AKU PASTI BISA! Dulu waktu muda aku sering main drama di karaoke!"
Produser Diana bersorak girang. "PERFECT! Syuting mulai besok! Kostumnya sudah kami siapkan—kaos kaki distressed look khusus dan sepatu boot berlubang!"
Rian menarik napas dalam-dalam. "Bu, mungkin lebih baik pakai aktor profesional—"
"TIDAK!" bantah produser itu dengan mata berbinar. "Kami mau authenticity! Penonton akan ship mereka beneran!"
Saat itu juga, Pak Joko sudah mulai berlatih adegan dengan memeluk ban dalam bekas seolah-olah itu sang dokter kulit. "Jangan pergi, Sayang... aku janji akan rajin pakai foot spray..."
Produser Diana menitikkan air mata. "This is pure gold!"
Rian memandang ke arah langit, di mana awan mendung perlahan membentuk pola yang mirip... kaki raksasa.
Notifikasi di ponselnya berbunyi—sebuah pesan dari grup WhatsApp warga: "Besok semua harus standby! Ada syuting sinetron di kampung kita! Yang mau jadi figuran sebagai 'warga yang pingsan karena bau kaki' langsung daftar! Fee 50rb per pingsan!"
Di kejauhan, terlihat Bu Darmi sedang mempromosikan jajanan barunya: "Es Kepal Bau Kaki—rasanya sama persis seperti di sinetron!"
Rian Jadi Manager
Rian duduk tercengang di tengah kamar kosnya yang sekarang berubah menjadi kantor darurat. Dindingnya dipenuhi sticky note warna-warni bertuliskan:
"Sabun cuci kaki - syuting iklan jam 10"
"Meet & greet di Mall - bawa kaos kaki bekas untuk ditandatangani"
"Podcast 'Bau tapi Berkah' - jangan lupa bawa ember bekas rendaman kaki"
Handphone-nya berbunyi tak henti. Seorang produser dengan logat Batak berteriak di telepon: "Jam 3 Pak Joko harus sudah di studio! Kita butuh dia rekam jingle 'Goyang Kaki Bau' untuk iklan minyak kayu putih!"
Belum sempat menjawab, pesan WhatsApp masuk dari tim sinetron: "Pak Joko telat shooting! Adegan ciuman sama dokter kulit nunggu 2 jam!"
Rian menekan pelipisnya. "Pak Joko! Kita harus berangkat dalam 10 menit!" teriaknya ke arah bengkel.
Pak Joko yang sedang asyik live Instagram sambil menunjukkan telapak kakinya ke kamera malah santai: "Sebentar, lagi viral nih! Ada artis dangdut minta collab!"
Tiba-tiba Bu Marni menyerbu masuk dengan segunung kaos oblong. "Ini pesanan 50 kaos kaki bekas Pak Joko buat fans club dari Malaysia! Katanya mau dikoleksi dalam display box anti-bau!"
Rian menghela napas. "Bu, itu kaos kaki bekas beneran atau..."
"Beneran dong!" sahut Bu Marni bangga. "Aku jemur 3 hari biar aromanya premium!"
Di tengah kekacauan, seorang kurir masuk membawa paket. "Saya diutus brand parfum dari Prancis. Mereka mau sponsori Eau de Joko edisi limited!"
Pak Joko langsung melompat girang. "Lihat, Rian! Aroma kakiku sekarang go international!"
Rian menatap kalender di dinding yang sudah penuh coretan. "Pak... besok jam 6 pagi ada sesi foto untuk kalender '12 Pose Kaki Paling Iconik', terus..."
"Cancel saja!" potong Pak Joko sambil mengangkat kaki ke atas meja. "Aku dapat tawaran lebih ’wah’ - jadi bintang tamu di acara masak MasterChef special menu aroma kaki!"
Rian menatap Pak Joko yang sedang asyik berfoto selfie dengan kaos kakinya yang sudah bertuliskan "Autographed by The Legend Himself".
"Gaji manager-ku nggak sebanding dengan mental breakdown yang aku alami..." gumamnya lelah, sambil menambahkan sticky note baru:
"Besok - terapi kejiwaan untuk manager (alias aku)"
Di luar, teriakan fans Pak Joko sudah mulai ramai: "Kami mau foto sama kakinya! Cuma 5 menit saja! Kami bawa masker gas sendiri!"
Rian mengunci pintu kamarnya, tapi kemudian mendengar suara gesekan di jendela - seorang fans nekat memanjat untuk mendapatkan "angin segar" dari kipas angin yang mengarah ke kaos kaki kotor Pak Joko di dalam.
"Ini sudah di luar kendali..." rengeknya, sambil menyerahkan diri pada takdir sebagai manager selebriti kaki paling bau se-Asia Tenggara. bersambung ke BAB 6...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar