
Dari Tambal Ban ke Talk Show
Rian menggigit kerupuk dengan frustrasi saat melihat Pak Joko—yang seminggu lalu masih marah-marah mengejar dengan sandal jepit—kini duduk manis di kursi tamu acara "Kick Joko", versi parodi "Kick Andy" yang digarap cepat-cepat oleh stasiun TV lokal.
"Jadi, Pak Joko, bagaimana perasaan Bapak tiba-tiba jadi viral karena... eh... keunikan kaki Bapak?" tanya host dengan senyum lebar.
Pak Joko, yang mengenakan kemeja batik agak kekecilan (pinjaman dari crew TV), menggaruk kepala. "Ya awalnya kesel sih. Tapi pas ada yang nawarin duit, saya pikir... nggak apa-apa lah kaki saya dikomersilkan!"
Penonton studio tertawa riuh. Rian, yang diundang sebagai "penemu bakat", cemberut di kursi belakang. Ini harusnya aku yang duduk di sana, pikirnya sambil memandang sinis ke arah Pak Joko yang sedang santai menyilangkan kaki—tanpa sepatu, tentu saja.
Tiba-tiba host menyodorkan mic. "Sebagai yang pertama mengangkat kisah Pak Joko, apa komentar Mas Rian?"
Rian tersentak. "Eh... saya cuma... ingin menunjukkan potensi lokal yang—"
Tanpa diduga, Pak Joko menyambar mic. "Saya mau kasih tahu ke semua penonton! Pemerintah itu bohong! Harga ban dalam naik terus, tapi bantuan UMKM nggak pernah sampai ke tukang tambal ban kayak saya!"
"Kemarin saya ke kecamatan mau ngurus bantuan, malah disuruh bayar administrasi! Ini salah siapa?!" teriak Pak Joko, jari telunjuk menunjuk ke kamera seolah sedang berorasi.
Kepanikan melanda studio. Produser di belakang kamera terlihat berteriak "CUT!", sementara Rian menutup wajah dengan tangan. Di kolom komentar live streaming, netizen ramai-ramai mengetik:
"Pak Joko for President 2024!"
"Ini beneran mau promosiin sabun apa kritik pemerintah sih?"
Rian hanya bisa mengangguk lemas, sambil memandang Pak Joko yang sekarang asyik berdebat dengan host tentang kenaikan harga ban dalam. Di luar, terlihat kru TV sedang buru-buru mengganti banner "Kick Joko" menjadi "Debat Publik: Kaki Bau vs Kebijakan Publik".
"Kapan ya aku bisa dapat endorsement..." gumam Rian putus asa, tepat ketika notifikasi di ponselnya berbunyi—sebuah email dari produser sinetron yang isinya: "Kami tertarik membuat karakter 'Tukang Tambal Ban Kritis' untuk sinetron baru kami. Tertarik main?"
Rian menghela napas panjang. Tampaknya, di dunia ini, bahkan kritik politik pun bisa jadi konten—asal ada aroma kaki bau di baliknya.
Kolab yang Gagal Total
"Oke guys, kita mulai live-nya! Hari ini spesial banget—langsung dari warung bakso langganan Pak Joko!" Rian bersemangat mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Pak Joko yang sedang asyik menyeruput kuah bakso.
"Eh, jadi gini rencananya," bisik Rian sambil menunjuk storyboard ala kadarnya di kertas bekas bungkus bakso. "Bapak makan bakso biasa dulu, terus pas aku kasih kode, bapak mengangkat kaki dan aku cium sambil terus makan. Simple kan?"
Pak Joko mengerutkan kening. "Kamu yakin mau cium kaki aku sambil makan?"
"Yakin! Ini bakal jadi konten paling epic sepanjang sejarah TikTok!" Rian mengacungkan jempol, tanpa menyadari betapa absurd idenya.
Live pun dimulai. Rian dengan gaya presenter gameshow memperkenalkan "Challenge Maut: Bakso vs Bau Kaki!" Sementara Pak Joko—yang sudah mulai mahir berakting—pura-pura tidak tahu rencana gila ini.
Tiba-tiba, dengan gerakan dramatis, Pak Joko mengangkat kaki kanannya ke atas meja. "BRRRAAAKKK!!" Suara itu bukan petir, tapi efek akustik dari bau yang tiba-tiba menyebar.
Rian tersedak. Matanya langsung berair, pipinya mengembung seperti kodok. Tapi demi konten, ia nekat mendekatkan wajahnya ke kaki itu sambil terus mengunyah bakso.
"Lihat guys, aku bisa—"
"BLAAARRGGHH!!"
Bakso yang baru saja dikunyah keluar kembali dengan kecepatan proyektil, mendarat tepat di lensa kamera. Netizen yang menyaksikan langsung ribut:
"Refund sekarang!!"
"Ini lebih traumatis daripada film horor!"
Pak Joko malah tertawa terbahak-bahak sambil mengibas-ngibaskan kakinya. "Katanya jago challenge? Cuma gini aja muntah!"
Live diakhiri secara prematur ketika pemilik warung marah besar karena pelanggan lain pada kabur. Rian terpaksa membayar ganti rugi 5 porsi bakso, sementara rekamannya yang gagal itu malah jadi meme baru: #BaksoTragedi.
Rian hanya bisa mengangguk lemas, sambil memandang enak Pak Joko yang sedang menyantap bakso terakhir dengan nikmat—kakinya masih telanjang dan sesekali digerak-gerakkan tepat di depan hidung Rian.
Di ponselnya, notifikasi dari platform live streaming berbunyi: "Akun Anda mendapat warning karena konten tidak pantas. Batas warning: 2 kali lagi sebelum banned permanen."
Kampung Jadi Destinasi Wisata
Rian mengusap keringat di dahinya sambil menyaksikan antrean panjang di depan rumah Pak Joko. Seorang wanita berkemeja "Dinas Pariwisata" sedang sibuk mengatur rombongan turis yang berselfie dengan latar belakang plang baru bertuliskan "Kampung Trendi - Desa Kaki Bau".
"Parkir? Eee... coba tanya sama Pak RT," jawab Rian bingung, sambil menghindari sekelompok anak muda yang sedang live streaming: "Guys, kita sekarang di lokasi legendary! Katanya di sini sumber aroma viral itu!"
"Beneran nih rasanya kayak...?" tanya seorang turis penasaran, hidungnya berkerut.
"Jangan khawatir!" sahut Bu Darmi sigap. "Kami pakai bumbu rahasia—dicampur sedikit garam bekas keringat kaki!"
Rian menggeleng-geleng ketika melihat seorang fotografer profesional sedang mengarahkan lensa kameranya ke sandal jepit Pak Joko yang dipajang di etalase kaca. "Ini angle yang bagus! Capture tekstur jamurnya!" kata si fotografer bersemangat.
"Pak Joko! Boleh foto sambil pegang kaki?" pinta seorang remaja.
Pak Joko menghela napas. "Ini bengkel tambal ban, bukan tempat wisata!" geramnya, tapi langsung disambut sorak pengunjung:
Di tengah keramaian, Rian melihat seorang pria berpakaian dinas dengan ID card bertuliskan "Dinas Kebudayaan" sedang serius mengamati dinding bengkel Pak Joko.
Rian yang mendengar langsung tersedak ludah. "Lho?!"
"TOLONG! ADA TURIS PINGSAN!" teriak seseorang dari dalam bengkel, memotong pembicaraan.
Rian bergegas masuk dan menemukan seorang wanita muda tergeletak di lantai—persis di sebelah ember tempat Pak Joko biasa merendam kakinya.
"Ah, biasa," kata Pak Joko sambil mengangkat bahu. "Ini yang kelima hari ini."
Rian memandang sekeliling—warung kopi yang dulu sepi sekarang ramai oleh turis, jalanan dipenuhi mobil berplat luar kota, dan anak-anak kampung menjual "gantungan kunci kaki bau" hasil print seadanya.