Teori Konspirasi Netizen
Rian menatap layar laptopnya dengan mata berkaca-kaca. Komentar di forum online berubah menjadi medan perang pendapat tentang kaki Pak Joko:
"Ini jelas rekayasa! Bau kaki segitu nggak mungkin alami!" tulis akun @ScientistGanteng. "Pasti ada campuran bahan kimia. Aku sudah analisis spektrum baunya!"
"Bodoh kalian! Itu kaki keramat!" bantah @DukunOnline. "Bau itu pertanda ada makhluk halus penunggu! Coba lihat bentuk kukunya yang melengkung seperti kujang!"
Rian menggeleng sambil mengunyah keripik rasa bawang—hadiah dari Bu Darmi yang kini jadi supplier resmi "by request" penggemar Pak Joko.
Tiba-tiba, pintu kamar kosnya terbuka. Seorang perempuan berkacamata tebal dengan jas lab putih masuk tanpa permisi. "Saya dr. Lili, influencer kesehatan holistik. Saya bisa sembuhkan kaki Pak Joko dalam 3 hari!"
"Eh, ini kamar pribadi—"
"Teknik saya unik!" potong dr. Lili bersemangat. "Terapi lintah spesial dari Tasikmalaya! Lintahnya sudah saya latih khusus untuk menyedot jamur kaki level dewa!"
Sebelum Rian bisa protes, perempuan itu sudah mengeluarkan toples berisi lintah-lintah gemuk. "Ini pasukan khusus saya. Mereka—"
BRAAK!
Tutup toples terbuka sendiri. Lintah-lintah itu melompat keluar seperti tim GEGANA, tapi alih-alih menuju kaki Rian, mereka malah merayap cepat ke arah tumpukan kaos kaki kotor di sudut kamar.
"Tidak! Salah target!" jerit dr. Lili panik sambil berusaha menangkap lintah yang sudah mulai naik ke tumpukan baju.
Rian melompat ke atas kasur. "KELUARKAN MEREKA SEKARANG JUGA!"
Di tengah kekacauan, Pak Joko tiba-tiba muncul di pintu. "Ada apa ini—"
Begitu melihat lintah, wajahnya berubah pucat. "KAMU BAWA APA ITU?!" teriaknya sambil mundur sampai menabrak dinding.
"Tenang Pak!" teriak dr. Lili sambil menari-nari menghindari lintah yang kini menyebar ke seluruh kamar. "Ini untuk penyembuhan—AAA! SATU NYEMPEL DI LEHER SAYA!"
Rian yang masih berdiri di atas kasur hanya bisa memandang horor saat lintah-lintah itu justru lebih tertarik pada kaos kakinya yang bertuliskan "Eau de Joko" ketimbang mendekati Pak Joko.
"Lihat?!" teriak Pak Joko sambil menunjuk kejadian. "BAHKAN LINTAH PUN TAK MAU DEKAT KAKIKU! INI PEMBUKTIAN KALAU—"
PLAK!
Sebuah lintah jatuh dari langit-langit tepat di atas kepala Pak Joko. Seluruh ruangan senyap sejenak sebelum...
"AAAAAAAAAAAA!!"
Dr. Lili kabur keluar sambil menjerit, meninggalkan toples kosong dan lintah-lintah yang sekarang merayap bebas di kamar Rian.
Di luar, tetangga-tetangga sudah berkerumun sambil merekam dengan ponsel. Tak sampai 10 menit, hashtag #LintahVsKakiBau sudah trending di Twitter.
Rian menatap Pak Joko yang masih pucat dan bergemetar. "Kamu... kamu mau aku usir lintah-lintah ini atau mau aku buat konten 'Challenge Tangkap Lintah Pakai Kaki'?"
Pak Joko melemparkan sandal jepitnya ke arah Rian. Jawabannya jelas.
Rian Dihujat
Rian menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar. Layarnya dipenuhi notifikasi mention dari ribuan akun Twitter dengan tagar #JusticeForJoko. Sebuah video edit dramatis telah viral—gambar Pak Joko yang terlihat "teraniaya" disandingkan dengan klip Rian tertawa saat rekaman kaki bau pertama kali diupload.
"Lihat nih ekspresi sadisnya! Jelas-jelas memeras orang tidak mampu demi konten!" tulis @JokoWarriors dengan emoticon tangisan.
"Rian itu contoh konten kreator toxic! Pak Joko cuma korban eksploitasi!" tambah @AntiCyberBullying.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. "Halo?"
"PAKAI SPEAKER!" teriak suara Bu Marni dari seberang. Rian menekan tombol speaker dengan jari gemetar.
"KAMU TAHU TIDAK SEKARANG ADA ORANG-ORANG PROTES DI DEPAN KOS? Bawa poster 'Rian Penindas Rakyat Kecil'!" teriak Bu Marni, suaranya bercampur dengan teriakan massa di latar belakang.
"Bu, itu kan cuma—"
"ADA YANG BAKAR BONEKA MIRIP KAMU! Pakai kaos 'Team Rian' itu yang kemarin kamu bagi-barin!"
Di layar laptop, live streaming YouTube memperlihatkan aksi unjuk rasa di depan kantor platform digital. Seorang aktivis dengan megafon berteriak:
"Kami menuntut Rian bertanggung jawab! Hapus semua konten eksploitatif! Dan... eh... bayar terapi kaki Pak Joko!"
Rian menutup wajah. "Ini gila..."
Pintu kamarnya tiba-tiba terbanting. Pak Joko berdiri di sana dengan wajah merah padam—tapi kali ini bukan marah, melainkan karena terharu.
"Kamu lihat ini?" Pak Joko mengacungkan ponselnya yang penuh DM dari netizen. "Orang-orang pada bela aku! Ada yang mau kirimkan obat kaki dari Singapura! Ada yang nawarin jadi manajer!"
Rian menghela napas. "Pak, aku cuma bikin konten biasa. Aku nggak—"
"BIASA?!" teriak Pak Joko tiba-tiba, tapi kemudian menurunkan volume suaranya. "Eh, kamu jangan keluar dulu ya. Biar tagar ini tetap trending. Aku baru dapat tawaran endorsemen dari klinik kulit seharga 20 juta!"
Di luar, teriakan massa semakin menjadi:
"Rian! Rian! Turun! Turun!"
Bu Marni berteriak dari bawah: "ADA YANG MAU BAYAR 500 RIBU BUAT DAPAT KAOS KAKI PAK JOKO YANG SUDAH DIPAKAI! KAMU PUNYA STOK?"
Rian memandang Pak Joko yang sedang asyik membalas DM dari "fans barunya". "Jadi... aku sekarang jadi penjahat?"
Pak Joko tersenyum lebar sambil mengangkat kaki kanannya. "Hidup itu seperti baunya kakiku, Nak. Kadang harus melewati bau-bau dulu sebelum dapat duit!"
Tepat di saat itu, batu kecil melewati jendela dan menghantam kaleng bekas di sudut kamar. Rian mengintip dari balik tirai—seorang remaja dengan kaos #JusticeForJoko sedang bersiap melempar lagi.
"Pak... boleh pinjam kaos kaki yang paling bau? Aku mau buat bendera putih..."
Pak Joko Mulai Menikmati Fame
Rian mengernyit saat melihat Pak Joko berdiri di depan bengkelnya—bukan dengan baju kerja biasa, tapi dengan kaos oblong baru bertuliskan "BAU TAPI TENAR" di dada, lengkap dengan ilustrasi karikatur kakinya sendiri yang mengeluarkan asap hijau.
"Lho Pak, dapat kaos dari mana itu?" tanya Rian sambil menghindari sekelompok anak muda yang sedang berfoto dengan latar belakang bengkel.
Pak Joko tersenyum lebar, memamerkan kaosnya seperti model iklan. "Hadiah dari fans di Bandung! Katanya edisi limited, cuma bikin 100 biji!"
Tanpa diduga, ia merogoh tas plastik dan mengeluarkan sepasang kaos kaki kotor. "Nih, tanda tangan dong di merchandise resmi aku!"
Rian mengangkat alis. "Kaos kaki bekas pakai?"
"Bukan sembarang kaos kaki!" sahut Pak Joko bangga. "Ini yang aku pakai waktu rekaman video viralmu dulu! Udah ada yang nawar 1,5 juta buat sepasang!"
Seorang remaja berpakaian necis tiba-tiba menyela. "Pak Joko, boleh selfie sambil pegang kaos kaki itu? Buat konten 'Mukbang Aroma Kaos Kaki' di channel aku!"
"Boleh saja!" jawab Pak Joko riang, lalu berbisik ke Rian, "Lihat? Sekarang mereka yang minta difoto sama aku!"
Di teras bengkel, sebuah meja kecil telah disulap menjadi "merch booth" dadakan. Beberapa pasang sandal jepit bekas pakai dibungkus plastik dengan label "Original Sandal Bau Legend - Rp 750.000/pasang".
"Pak, ini beneran ada yang mau beli sandal bekas?" tanya Rian tak percaya.
Pak Joko mengangguk sambil menunjukkan ponselnya. "Lihat tokoku di Shopee! Udah 32 yang booking. Besok mau aku kirim pakai bubble wrap khusus plus amplop harum durian biar aromanya nempel!"
Tiba-tiba seorang wanita muda mendekat dengan buku tahunan. "Pak Joko, tanda tangan dong di halaman muka! Nanti aku laminating biar awet!"
Dengan gaya selebriti, Pak Joko mengambil spidol permanen. "Mau pakai stempel jempol kaki juga? Gratis, tapi khusus hari ini saja!"
Rian memandang adegan itu dengan mulut menganga. Di seberang jalan, Bu Darmi terlihat sibuk menjual minuman "Es Teh Joko" dengan label "Rasa Autentik Kaki Legend".
"Gimana, Rian?" Pak Joko menyeringai sambil mengangkat kakinya yang sekarang sudah dibungkus plastik vacuum.
Rian hanya bisa menggeleng, menyadari bahwa monster yang ia ciptakan telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh di luar kendalinya. Di kejauhan, terlihat seorang fotografer profesional sedang mengarahkan lensa ke tumpukan kaos kaki kotor Pak Joko yang dijual sebagai "koleksi limited edition".
"Kurang apa lagi ya..." gumam Rian, persis ketika sebuah truk kecil berhenti di depan bengkel. Supirnya turun sambil teriak, "Pak Joko! Pesanan 50 dus sabun cuci kaki siap antar! Mau ditumpuk di mana?"
Pak Joko berteriak girang, "Taruh saja sebelah ban bekas! Nanti aku tandatangani satu-satu dusnya biar harganya naik!"
Rian menutup wajah dengan tangan, sambil perlahan mundur meninggalkan keramaian. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat plang baru dipasang di depan bengkel:
"Kampung Trendi - Wisata Kaki Bau Pertama di Asia Tenggara".
Di bawahnya, tulisan kecil: "Ditemukan oleh Rian (tapi sekarang urusannya sama Pak Joko saja)". bersambung ke bab 5.......
