Google Analytics

Rabu, 21 Mei 2025

VIRAL ITU BAU; Bab 7: Jalan Keluar yang Konyol


Rehabilitasi Kaki

Rian menyeret sebuah baskom besar berisi larutan ke tengah bengkel Pak Joko, diikuti oleh warga kampung yang penasaran. 

"Kita mulai terapi tahap satu!" seru Rian, mengacungkan botol berisi cairan hijau. "Ini obat jamur super dari apotek!" 

Pak Joko memasukkan kakinya dengan ragu. "Aduh... perih!" jeritnya setelah tiga detik. 

Bu Darmi yang mengintip dari jendela langsung berkomentar, "Wajar, itu kakimu aja sampai ngebul gitu!" 

Tiba-tiba seorang dukun berjubah ungu nyelonong masuk tanpa permisi. "SALAH SEMUA CARANYA!" teriaknya sambil mengibaskan tongkat wasiat dari ranting pohon mangga. "Yang bener begini!" 

Dia mengeluarkan sekantong kopi tubruk merek murah. "Ini resep turun-temurun! Rendam kaki pakai kopi campur garam dapur, tiga hari tiga malam!" 

Rian mengernyit. "Itu bukannya resep rawon ya, Mbah?" 

"SAMA! Kaki ini juga perlu dibumbui!" sang dukun bersikeras sambil menuang kopi ke baskom. 

Pak Joko mencoba memasukkan kaki. "Aduh... hangat..." 

"Tahan! Nanti juga nikmat!" sang dukun memijat dengan semangat. "Ini kopi spesial racikan saya—kopi jahe sereh, biasanya buat obat kucing males kawin!" 

Warga berkerumun penuh harap ketika Pak Joko mengangkat kakinya setelah 10 menit. 

"Gimana, Pak?" tanya Bu RT penuh harap. 

Pak Joko mengendus. "Bau kopi... tapi..." 

"TAPI APA?" desak Rian. 

"Tapi sekarang baunya kayak kopi basi dicampur keringat kambing," jawab Pak Joko jujur. 

Dukun itu langsung berseru, "SUKSES! Itu artinya racun sudah keluar!" 

Tiba-tiba seorang anak kecil berteriak, "Kucingku pingsan!" sambil menunjuk ke arah kucing kampung yang tergolek di dekat baskom. 

Rian menghela napas. "Mungkin kita butuh pendekatan medis yang lebih..." 

"TIDAK!" potong dukun itu. "Tahap dua lebih ekstrem! Kita pakai rendaman air rebusan jengkol dan petai!" 

Pak Joko langsung menarik kakinya. "Lebih baik aku tetap bau kaki daripada bau dikira toilet rusak!" 

Di tengah keributan, Bang Jack si Ketiak Bau muncul di pintu. "Gue punya solusi..." 

Semua orang menengok. 

"Kita campur aja baunya! Jadi aroma kopi-ketek-kaki! Bisa jadi parfum baru!" 

Rian memandang langit-langit bengkel yang sudah mulai mengelupas. "Kenapa solusi kalian selalu bikin masalah tambah parah..." 

Sementara itu, di sudut ruangan, Bu Darmi sudah mulai mencatat resep untuk jajanan baru: "Kopi Aroma Kaki—Nikmatnya sampai ke jari!"

 Konten Terakhir

Rian mengatur kamera di depan bengkel Pak Joko yang sudah kembali normal, tanpa dekorasi norak atau plang "Kampung Trendi". Pak Joko duduk dengan kaos biasa—bukan yang bertuliskan "BAU TAPI TENAR"—dan mengenakan sandal jepit baru yang masih bersih. 

"Oke, rolling..." Rian memberi isyarat, lalu mulai: 

"Netizen yang kami cintai..." suaranya serius, sangat berbeda dengan nada over-aktifnya biasanya. "Kami mau jujur tentang semua yang terjadi." 

Kamera bergerak ke Pak Joko yang mengangguk. "Iya. Aku mau ngakuin sesuatu." Dia mengangkat kaki yang sudah memakai kaos kaki bersih. "Selama ini... aku jarang ganti kaos kaki. Paling seminggu sekali. Kadang lupa dua minggu..." 

Rian menambahkan: "Dan aku mau minta maaf sudah mengeksploitasi keadaan Pak Joko cuma demi konten." Wajahnya merah. "Awalnya iseng, tapi kemudian jadi keterusan sampai..." 

"Sampe kampungku jadi sirkus!" sela Pak Joko. "Tapi gak apa-apa, aku juga seneng dapat duit buat nambah modal bengkel." 

Mereka tertawa kecil. Rian melanjutkan: "Jadi ini konten terakhir tentang... ehm... aroma kaki. Mulai besok, channel ini akan bahas hal lain." 

"Kayak tutorial benerin ban bocor!" seru Pak Joko antusias. 

"Atau resep masakan Bu Darmi yang nggak pakai bau-bau aneh," tambah Rian sambil tersenyum. 

Di kolom komentar live streaming, netizen bereaksi: 

*"Sedih tapi mengharukan :')"* 

*"Salut sama kejujuran kalian!"* 

*"Tapi tetep mau dong kaos kaki bekas terakhirnya..."* 

Tiba-tiba Bang Jack si Ketiak Bau muncul di belakang mereka. "Gue juga mau minta maaf! Ternyata ketek gue cuma bau biasa, kemarin abis makan jengkol doang!" 

Semua tertawa lepas. Pak Joko mengacungkan jempol ke kamera: 

"Jadi kesimpulannya: jaga kebersihan, jangan terlalu cari sensasi, dan..." 

"JANGAN PERCAYA BEGITU AJA SAMA KONTEN DI INTERNET!" Rian menutup dengan semangat. 

Ketika kamera dimatikan, Pak Joko menepuk punggung Rian. "Lanjut besok bikin konten apa?" 

"Gimana kalau kita review tempat makan yang beneran enak, bukan yang aneh-aneh?" 

Pak Joko mengangguk setuju, sambil membuka sepatu barunya. "Aku janji rajin ganti kaos kaki sekarang. Tapi..." 

"Tapi apa?" 

"Tetep sesekali boleh ya buka bengkel 'Kaki Legend' buat nostalgia?" 

Rian menggeleng sambil tersenyum. "Boleh... asal jangan tiap hari!" 

Di kejauhan, Bu Darmi berteriak: "Ayo makan! Aku masak sambel bawang, nggak pake keringat kaki!" 

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aroma yang menyebar di kampung itu benar-benar wangi.

BERSAMBUNG KE BAB 8.....................TERAKHIR!
 

Klik Judulnya untuk Mendengarkan

👇 KUNTI GUNUNG KAWI Ep.01   "Di tengah kabut abadi Gunung Kawi, terdengar tangisan pilu yang memecah keheningan malam. Penduduk setemp...