👇
GEPREKAN: Perang Voucher Pake Nyali
👇
GEPREKAN: Perang Voucher Pake Nyali
Netizen Justru Kangen
Rian
menatap tak percaya ke layar laptopnya. Video "Jujur ke Netizen" yang
diunggah semalam sudah menembus 5 juta views—angka tertinggi yang pernah ia
dapatkan.
"Kok
bisa?" gumamnya, membaca deretan komentar yang membanjiri kolom.
"Ini
konten paling wholesome sepanjang 2023! Akhirnya ada yang jujur di dunia
medsos!" tulis @socialmedia_critic dengan emoticon hati.
"Aku
dari dulu fans berat kalian! Tetap autentik ya!" komentar @joko_fansclub.
Bahkan
akun @baukaki_forever yang biasanya hanya memposting meme kini menulis:
"Sedih era kaki bau sudah berakhir. Tapi kami respect keputusan
kalian!"
Tiba-tiba
telepon berdering. Suara produser televisi terdengar bersemangat: "Kami
mau tawarin acara baru: 'Jalan-Jalan dengan Pak Joko'! Konsepnya traveling
biasa, bukan cari sensasi!"
Rian
terkejut. "Beneran nggak pakai bau-bauan?"
"Beneran!
Malah kita akan kasih Pak Joko sepatu baru setiap episode!"
Di
bengkel, Pak Joko yang sedang asyik membuka komentar-komentar di handphone-nya
tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Rian! Lihat ini!"
Ia
menunjukkan DM dari seorang netizen: "Pak Joko, terima kasih sudah
menginspirasi saya rajin ganti kaos kaki. Sekarang pacar saya tidak kabur
lagi!"
Bu
Darmi yang lewat sambil membawa nasi bungkus ikut nimbrung: "Warungku juga
dapat efek baik. Sekarang yang beli nasi campur beneran karena enak, bukan buat konten
aneh-aneh!"
Rian
menyusuri jalan kampung yang kini kembali tenang. Beberapa warga menyapa dengan
hangat:
"Mas
Rian, kapan nih bikin konten masak bareng Bu Darmi?"
"Jangan
lupa mampir, ada bakso baru enak di ujung jalan!"
Di
pojok jalan, sekelompok anak muda sedang berfoto selfie di depan bengkel Pak
Joko—bukan untuk mengeksploitasi, tapi sekadar kenang-kenangan.
"Boleh
foto, Pak? Buat koleksi pribadi aja," tanya salah seorang dengan
sopan.
Pak
Joko tersenyum lebar. "Boleh dong! Tapi sekarang fotonya pakai sepatu
ya!"
Malam
itu, Rian mengunggah postingan terbaru: "Mulai besok, kita akan eksplor
hal-hal biasa yang sebenarnya luar biasa. Pertama: tutorial ganti ban yang
bener biar nggak bocor terus!"
Dalam
hitungan menit, likes berdatangan. Komentar pertama dari @bang_jack: "Gue
siap kolab! Tapi janji nggak pake bau-bauan ya!"
Pak
Joko yang melihat itu semua hanya tersenyum, sambil memakai kaos kaki bersih
yang baru ia beli—sepasang untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.
"Ternyata
lebih enak begini," bisiknya pada diri sendiri, sambil menikmati angin
malam yang berhembus tanpa embel-embel aroma menyengat apa pun.
Di
kejauhan, Bu Marni berteriak dari kos: "Rian! Ada yang kirim
parcel—katanya hadiah buat kalian berdua!"
Isinya?
Sepuluh pasang kaos kaki baru berbagai warna—dan satu botol besar foot
spray.
Netizen
memang tidak pernah berhenti mengagetkan.
Kolab Sehat
Rian
mengatur lighting di depan bengkel Pak Joko yang kini berubah menjadi set
sederhana. Sebuah banner bertuliskan "Edukasi Kaki Sehat Bareng Pak Joko
& Rian" tergantung di belakang, disertai logo brand sabun yang
mensponsori.
"Oke
Pak, kita mulai ya. Ini konten serius tapi santai," bisik Rian sambil
menyalakan kamera.
Pak
Joko, mengenakan kaos kaki baru dan sepatu bersih, tersenyum lebar ke lensa.
"Hai netizen! Hari ini kita mau bahas cara merawat kaki biar nggak kayak
punya saya dulu!"
Rian
mengangkat botol sabun. "Pertama, rajin cuci kaki pakai sabun khusus
seperti ini—"
"Yang
dulu pernah mau bayar saya 10 juta buat pura-pura nangis di iklan!" sela
Pak Joko dengan senyum kecut, membuat Rian tersedak.
"Ehh...
iya, tapi sekarang kita kerjasama yang sehat!" Rian cepat menyelamatkan
situasi sambil mengeluarkan sikat kecil. "Kedua, bersihkan sela
jari—"
"Bukan
buat nyikat ban bocor ya!" Pak Joko menyambar, mengacungkan jari
telunjuk.
Di
kolom komentar live, netizen langsung banjir emoticon ketawa:
"Wkwkwk
Pak Joko ga bisa beneran serius!"
"Ini
konten edukasi atau stand up comedy?"
Rian
melanjutkan dengan wajah datar: "Ketiga, ganti kaos kaki setiap hari.
Bukan seminggu sekali apalagi sebulan—"
"Lho
saya dulu dua bulan sekali!" Pak Joko berseru polos, lalu menutup mulut
kaget. "Eh salah—maksud saya... dulu saya juga rajin!"
Rian
memicingkan mata. "Bapak ini... Oke lanjut! Keempat, pakai foot spray
kalau perlu."
Dengan
gaya dramatis, Pak Joko menyemprotkan spray ke sepatunya—tapi terlalu banyak
sampai membentuk awan kecil. "Aduh... kok jadi kayak disemprot pemadam
kebakaran ya?"
Netizen
makin gembira:
"Tetep
autentik sih mereka wkwk"
"Jadi
pengen beli spraynya, tapi takut efeknya kayak di video"
Di
akhir sesi, Rian menutup dengan serius: "Jadi kesimpulannya, jaga
kebersihan kaki itu penting—"
"Biar
nggak dijadiin konten sama Rian!" Pak Joko menimpali sambil tertawa,
membuat Rian menggeleng tak berdaya.
Ketika
kamera dimatikan, manajer brand sabun menghampiri. "Kontennya bagus!
Viewernya dobel dari estimasi kita. Mau lanjut kolab seri edukasi
kesehatan?"
Pak
Joko mengangkat kaki bersepatunya. "Boleh! Tapi next episode bahas cara
benerin ban bocor sambil jelasin anatomi kaki, biar tetep nyambung sama
keahlian saya!"
Rian
hanya bisa tersenyum lega. Akhirnya mereka menemukan formula tepat—edukasi yang
menghibur, tanpa perlu mengorbankan harga diri atau indra penciuman
penonton.
Di
kejauhan, Bu Darmi berteriak: "Ada yang pesen bakso aroma kaki nggak? Eh,
maksudku... bakso biasa!"
Lama-lama,
semua akan kembali normal—hanya saja dengan sedikit lebih banyak sabun dan sedikit
lebih sedikit bau menyengat.
Akhirnya tetap
begitu juga
Enam
bulan kemudian, bengkel Pak Joko masih ramai dikunjungi—bukan karena aroma
kakinya, tapi karena plang barunya yang unik: "Tambal Ban & Spot Foto
- Bekas Lokasi Viral Terkenal". Sebuah frame foto berbentuk sepatu raksasa
dipasang di depan, lengkap dengan tulisan "Pose Here with The Legendary
Foot!"
"Pak
Joko, minta foto dong sambil pura-pura pegang kaos kaki!" pinta seorang
remaja dengan kamera mirrorless.
"Boleh!
Tapi pakai sepatu ya, nanti kena denda 50 ribu kalau lepas!" jawab Pak
Joko sambil tertawa, tangannya asyik memutar ban dalam.
Di
seberang jalan, Rian sedang syuting konten terbarunya—review tempat makan lokal
dengan sentuhan edukasi. "Warung ini enggak cuma enak, tapi juga menerima
pembayaran pakai sampah plastik daur ulang—"
"KAYAK
BAN BEKAS DI BENGKEL SAYA!" teriak Pak Joko dari kejauhan, tanpa
diminta.
Rian
menggeleng sambil tersenyum. "Cut! Kita edit bagian itu nanti,"
bisiknya ke kameramen.
Bu
Darmi yang sekarang jadi bintang tamu tetap di channel Rian muncul dengan
nampan makanan. "Coba dulu nasi goreng spesialku—tanpa bau-bau aneh,
promise!"
"Tapi
masih pake sambel yang nendang kan, Bu?" tanya Rian sambil menyiapkan
kamera lagi.
Di
kolom komentar, netizen setia selalu berdatangan:
"Aku
kangen sih sama konten absurd mereka dulu"
"Tapi
yang sekarang lebih sustainable, tetep seru kok!"
Malam
harinya, Pak Joko dan Rian duduk di teras bengkel, menikmati teh hangat.
"Gimana,
nggak nyesal udah pensiun jadi selebriti kaki?" tanya Rian.
Pak
Joko mengangkat kakinya yang bersepatu baru. "Lebih enak begini. Tapi...
ia menurunkan suaranya, "kadang aku kangen sama kaos kaki lamaku yang
nomor 7 itu. Itu emang special..."
Rian
tertawa. "Tenang Pak, itu sudah jadi koleksi museum digital aku. Enggak
akan dijual, cuma buat kenang-kenangan."
Di
tengah obrolan mereka, seorang turis Jepang tiba-tiba mendekat. "Excuse
me, is this the famous 'Bau Kaki' workshop? I want to take picture with
legend!"
Pak
Joko menghela napas sambil tersenyum. "Duh, sampai kapan ya gelar itu
nempel..."
Rian
hanya bisa terkekeh sambil mengarahkan kamera. "Senyum, Pak! Ini konten
gratis buat promosi bengkel!"
Dan
begitulah kehidupan mereka sekarang—tetap absurd, tapi dengan porsi yang pas.
Bengkel tetap berfungsi sebagai bengkel, channel tetap menghasilkan konten
berkualitas, dan yang terpenting...
"RIAN!
AYO MAKAN! AKU BUAT SAMBEL BAWANG BARU!" teriak Bu Darmi dari warung.
"Yang
penting nggak ada aroma kaki di makanan kita lagi," bisik Rian sambil
berjalan, diikuti Pak Joko yang terkekeh-kekeh.
Di
langit senja, awan membentuk pola yang samar-samar mirip... sepasang kaos kaki.
Mungkin alam memang masih belum sepenuhnya move on.
TAMAT.
👇 KUNTI GUNUNG KAWI Ep.01 "Di tengah kabut abadi Gunung Kawi, terdengar tangisan pilu yang memecah keheningan malam. Penduduk setemp...